User Name  Password
<>



Title: The Symphony of Death by G-nire
Hop to: 
Views:196     
<<Previous ThreadNext Thread>>
Page 1 / 1    
AuthorComment
yanie
 Author    



Rank:SmappY
Score: 1791
Posts: 1685
From: Indonesia
Registered: 01/08/2003
Time spent: 893 hours

(Date Posted:08/08/2006 19:59:47)

...

--------------------------------------------------------------
A Daily Journal: http://yanie02.livejournal.com

G-nire
1# 



Rank:in Love
Score:166
Posts:166
Registered:05/26/2006
Time spent: 3387 hours


(Date Posted:06/13/2006 13:25:10)

Minna-san, aku juga punya fanfic yang pingin di post nih! Berhubung aku memang punya hobi nulis cerita ?aneh' dari pada menuh-menuhin file komputer and rak bukuku and kebuang percuma mending di post di sini aja. Aku kasih sinopsis dulu aja kali ya, belum kelar sih.fficeffice" / onload='javascript:showImageWidth(this,600,600)' class='AutoImageWidthTopic' style='cursor:poionter'>

 

The Symphony of Death

(Hehehe, judul rada serem. Sebenarnya ide ceritanya muncul setelah nonton Suna no Utsuwa-nya Nakai.)

 

Ceritanya belakangan ini pihak kepolisian sedang dibingungkan oleh kemunculan seorang pembunuh berdarah dingin yang menamakan dirinya Pianis dari Neraka. Pianis dari neraka itu selalu melakukan pembunuhan dengan sangat kejam. Motif apa yang mendorong si pianis untuk membunuh belum jelas. Pihak kepolisian benar-benar sudah pusing dibuatnya karena kejahatannya sangat rapi.

Sebenarnya jati diri sang pianis itu adalah seorang pianis jenius yang sedang naik daun bernama Goro Inagaki. Dia melakukan pembunuhan hanya untuk mendapat ilham menciptakan lagu. Dia selalu menulis lagu di atas kertas partitur dengan darah korbannya sebagai tintanya. Dari mana dia mendapat korban? Dia punya situs bernama "Siapa yang Keberadaannya Ingin Kamu Hilangkan?". Dari sana ia mendapat klien setelah itu ia akan minta uang imbalan atas jasanya. Si pianis memiliki teman seorang polisi bernama Takuya Kimura. Polisi itulah yang bertugas menyelidiki kasus pembunuhan itu. Ironisnya, dia tidak tahu bahwa temannya itulah sang pianis dari neraka.

 

Ceritanya rada aneh ya? Untuk karakter, aku udah ngundi untuk menetukan siapa jadi siapa. Akhirnya yang jadi pianisnya Goro. Saat mengundi untuk menentukan siapa yang jadi polisi, yang keluar namanya Takuya. Kebutulan banget aku pingin Goro-Takuya main bareng. Kebetulan juga aku pingin Goro jadi pembunuh meski hanya di ceritaku aja. Emang udah takdir kali ya. Nah, aku bingung 3 lainnya jadi apa enaknya. Tapi berhubung ini cerita dark, gak bakal ada cerita romancenya.

 

Gimana tertarik gak? Kalo iya entar aku post (klo ga ya biar jadi koleksi pribadi aja^^). Tapi kayaknya lagi pada nungguin terusannya ceritanya Yannie deh. Aku juga nungguin lanjutannya sih. Suka banget bacanya, kayak bukan baca fanfic tapi kaya baca berita aja. Ayo dong lanjutin lagi. Four thumbs up deh!

--------------------------------------------------------------
Wanna see my prince with his guitar?

Support us

Create free forum and click the links below and your donations will make a difference here.

www.dinodirect.com

Online Huge Store for Various Cool Gadgets, Nintendo Wii Controller, iPod Charger, iPhone Cases, BlackBerry Cases, Laptop Accessories, Rechargeable Battery, LED Tactical Flashlight, iPod Earphones, iPhone Charger, Wii Controller, iPod Cables, Video Players, Music Players, Car Accessories, Cell Phone Accessories, Video Games Accessories and Hobby Gadgets.

If you use the code "DDLIFE", all orders will get 10% discount plus worldwide free shipping!
 
love_smap
2# 



Rank:in Love
Score:143
Posts:142
Registered:05/26/2006
Time spent: 0 hours


(Date Posted:06/16/2006 12:03:18)

Reply to : G-nire

Minna-san, aku juga punya fanfic yang pingin di post nih! Berhubung aku memang punya hobi nulis cerita ?aneh' dari pada menuh-menuhin file komputer and rak bukuku and kebuang percuma mending di post di sini aja. Aku kasih sinopsis dulu aja kali ya, belum kelar sih.?xml:namespace prefix = o ns = "urn:schemas-microsoft-comfficeffice" />
wai...wai...aye mau donk lanjutannya.Kan gw ska baca cerita loe

--------------------------------------------------------------
Yoo raimu elek pancen koyok TIKUS
Seneng eker- eker kon koyok TIKUS
Ndak tau adus kon koyok TIKUS
Lha lek koyok ngene kon koyok TIKUS

G-nire
3# 



Rank:in Love
Score:166
Posts:166
Registered:05/26/2006
Time spent: 3387 hours


(Date Posted:06/20/2006 10:22:10)

The Symphony of Deathffice

 

 

Chapter 1 : A Man Who Called Genius

 

Malam itu angin bertiup lumayan kencang. Walaupun begitu, niat Nakai Masahiro untuk pergi menuju konser hall tempat pertunjukan konser pianis jenius terkenal bernama Goro Inagaki berlangsung tidak dapat ditahan. Langit begitu indah malam itu. Lagi pula, ini pertama kalinya ia menghadiri konser pianis itu. Dia selalu mendengar lagu gubahannya tiap hari. Lagu-lagu itu selalu membawa ketenangan hati bagi mc acara sukses itu.

Dia melihat jam tangannya, masih ada waktu 1 jam lagi. Gedung konser itu tak jauh lagi. Dia memutuskan untuk mengisi perutnya dulu di kedai langganannya. Seperti biasa dia disambut oleh pelayan yang ramah. Dia langsung duduk di meja biasa dan memesan makanan biasa. Nakai saat itu tidak sadar bahwa dia sedang diperhatikan oleh seorang pria. Ia kaget sekali ketika pria itu menepuk pundaknya.

"Anda Nakai Masahiro?" tanyanya.

"Iya. Siapa ya?" tanya Nakai.

"Aku penggemar Anda. Er.., bisa minta tanda tangan?" pinta pria itu.

"Boleh." jawab Nakai. Pria itu lalu mengambil note booknya dan menyodorkan buku kecil itu kepada Nakai. Nakai menandatangani buku itu. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba saja pria itu terus mengajak Nakai mengobrol. Bahkan sampai makanan datang, orang itu tidak pergi. Memang Nakai termasuk orang yang senang mengobrol namun orang ini cukup mengganggu.

Sambil menyantap makanannya, sesekali Nakai mencuri pandang pada pria ini. Tingginya kira-kira 176 cm, berbadan kurus, dan entah kenapa rasanya Nakai pernah melihat muka orang ini. Dia merasa janggal, kenapa pria ini masih memakai kaca mata hitam dan topi di dalam ruangan?

Nakai lalu merogoh sakunya, Dia mengeluarkan rokoknya. Setelah itu ia merogoh sakunya yang lain. Barang yang dicarinya tidak ketemu. Tiba-tiba saja orang itu menyodorkan benda yang sedang ia cari, pematik.

"Terimakasih." kata Nakai. Dia menyalakan api dan menyulut rokoknya. Setelah itu barang itu bersarang kembali ke saku celana pria asing itu. "Anda tidak merokok?" tanya Nakai heran.

"Tidak. Aku tidak merokok." jawab pria itu.

"Kalau begitu kenapa membawa pematik? Bukankah hanya perokok yang selalu membawa pematik?" tanya Nakai tanpa heran.

"Pematik," jawab orang itu, "tidak hanya digunakan untuk rokok saja."

"Maksudmu?"

"Ya, misalnya untuk membakar sesuatu."

"Anu, aku sudah harus pergi." kata Nakai sambil melihat jam tangannya.

"Oh ya? Sayang sekali," pria itu terlihat kecewa, "mau ke mana?"

"E, aku mau ke konser." jawab Nakai.

"Konser Goro Inagaki kan? Aku juga mau ke sana. Bagaimana kalau kita pergi bersama? Aku tahu jalan pintas ke sana." ajak orang itu.

Nakai merasa sangsi. Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Tapi akhirnya Nakai menerima tawaran orang asing itu. Maka pergilah mereka menuju konser hall. Seingat Nakai, dia belum pernah melewati jalan itu. Entah kenapa orang itu membawanya ke jalan yang sepi. Tiba-tiba mereka masuk ke sebuah parking lot. Nakai makin merasa cemas.

"Maaf, apa benar ini jalannya?" tanya Nakai cemas.

"Tentu saja. Lihat, bila kita menembus tempat parkir ini maka kita akan sampai di seberang jalan tempat konser itu." jawab orang itu.

"Ah ya, benar juga." kata Nakai.

"Ngomong-ngomong, apakah kau kenal dengan Hideaki Takizawa?" tanya orang itu.

"Iya, dia bawahanku. Ya, masih anak baru sih. Memang kenapa?" tanya Nakai.

"Dia diam-diam membencimu. Katanya kau selalu menghalanginya." jawab orang itu.

"Benarkah? Aku tidak menyangka." Nakai sungguh terkejut atas pernyataan orang ini.

"Apa ada orang yang ingin Anda ucapkan selamat tinggal?" tanya orang itu.

"Tidak ada, memangnya kenapa?" tanya Nakai.

Orang itu berdiri memunggungi Nakai. Ia merapatkan mantel yang ia kenakan. Orang itu memegang sesuatu di tangan kirinya. Sesuatu itu tidak panjang dan memantulkan cahaya bulan. Akhirnya Nakai tahu apakah benda itu. Itu adalah sebilah pisau. Pisau yang cukup tajam untuk memotong bagian tubuhmu!

"Karena hari ini kamu akan mati." jawab orang itu dengan nada yang sangat dingin.

Tiba-tiba tubuh Nakai bergetar dengan sangat hebatnya. Dia berusaha untuk lari namun kakinya terasa sangat berat untuk digerakkan. Tidak, dia harus lari! Bila tidak mungkin ini adaah akhir dari segalanya. Sementara itu, orang itu mulai berjalan perlahan-lahan ke arah Nakai. Nakai berusaha untuk lari namun yang terjadi adalah dia terjatuh karena sangat gemetaran. Sebagai orang yang tidak percaya akan hantu, dia selalu tertawa ketika melihat film horor di mana si tokoh tak lari saat bertemu hantu. Kini ia mengerti kenapa orang itu tidak langsung lari tapi malah terjatuh.

"Kau tahu, ekspresi wajahmu itu mengingatkanku kepada orang yang baru-baru ini aku bunuh." kata pria itu dengan tenangnya.

Nakai berusaha menggerakkan mulutnya. Ia ingin berteriak minta tolong. Namun rasanya mulutnya tak dapat bergerak. Satu-satunya suara yang keluar dari mulutnya adalah suara gumaman tidak jelas.

"Ya, ekspresi mukamu itu membawa ilham baru untuk lagu terbaruku. Lagu ?King of the Valley' hampir selesai. Aku harus berterimakasih padamu karena telah memberikanku bagian penutup yang baik untukku." kata pria itu.

Ah, jangan-jangan dia pembunuh gila yang menamakan dirinya pianis dari neraka itu? Kalau begini tamatlah riwayatku, pikir Nakai. Aku benar-benar harus lari! Tapi kenapa aku tidak dapat bergerak? Sepertinya sendi-sendiku tidak dapat digerakkan. Sial, dia terus mendekat. Ayo bergerak! Aku harus lari.

"Kenapa? Tidak bisa lari ya?" tanyanya santai. "Ya, hampir setiap mangsaku tidak dpaat bergerak ketika berhadapan denganku."

Kini pria itu tepat berdiri di depan Nakai. Pria itu berjongkok dan memperhatikan Nakai. Meski pria itu memakai kacamata hitam, Nakai masih dapat merasakan tatapan tajam pria itu. Pandangan itu begitu tajam, mampu memotong-motong nyali Nakai untuk lari menjadi serpihan-serpihan kecil. Apa lagi ketika Nakai melihat pisau itu kini sedang ditodongkan ke perutnya. Benda tajam itu kini ditekankan ke perutnya.

"Bagus, aku suka ekspresimu," komentar orang itu, "kalau diabadikan menjadi lagu mungkin akan menjadi nada yang rendah. Aku tahu, sebaiknya menjadi...."

Nakai tidak dapat mendengar perkataan orang itu dengan jelas. Hanya ada satu hal yang berkelebat di benaknya, kematian! Dia akan mati hari ini, di tangan pembunuh berdarah dingin itu. Tidak, Nakai merasa bahwa benda tajam yang dari tadi ditekan ke perutnya kini telah benar-benar masuk ke perutnya. Seketika rasa sakit langsung menyebar ke seluruh tubuhnya. Ketika pisau itu ditarik dari tubuhnya, rasa sakit itu mulai bertambah parah. Darah segar segera menyembur dari bekas tikaman itu. Darah itu mengenai mantel dan wajah pria asing itu. Tapi Nakai tidak peduli, yang ia rasakan saat itu adalah rasa sakit yang sangat menyiksa.

--------------------------------------------------------------
Wanna see my prince with his guitar?

G-nire
4# 



Rank:in Love
Score:166
Posts:166
Registered:05/26/2006
Time spent: 3387 hours


(Date Posted:06/20/2006 10:23:34)

"Hmm, tunggu sebentar." orang itu mengambil secarik kertas dari balik mantelnya. Nakai melihat apa itu. Ternyata sebuah partitur lagu. Not tersebut ditulis memakai tinta merah. Setelah itu pria itu mengambil sebuah pena bulu. "Maaf, aku minta darahmu sedikit." kata pria itu lagi.

Sesaat Nakai benar-benar tidak percaya yang dilakukan pria itu. E, dia memakai darahku untuk menulis?! Mata pena itu kini berada di lukanya. Setelah itu pena itu dengan asyiknya menari di kertas partitur lagu di tangan kiri sang koreografer. "Ok, selesai," kata orang itu, "lagu ketiga dari 5 lagu terakhirku selesai juga."

Nakai tidak percaya apa yang dia dengar. Orang ini menulis lagu atas kematiannya?

"Kau harusnya senang karena kematianmu aku kenang ke dalam laguku. Ya, bagaimanapun juga kau telah membantuku menyelesaikan lagu ini." orang itu membuka kaca mata hitam yang dari tadi ia pakai.

Nakai hanya dapat memandang wajah tampan pria itu dengan tatapan mata bertanya-tanya. "Kkkau...., kau...," dia tidak dapat meneruskan kata-katanya. Perasaan takutnya kini telah tercampur dengan perasaan terkejut.

"Ya, benar. Kau mengenaliku bukan?" kata pria itu. Lalu ia berputar dan berjongkok di belakang Nakai. Benda tajam itu kini ditodongkan ke arah leher Nakai. "Ya, kurasa aku harus menyelesaikanmu sekarang. Kau tahu kan sebentar lagi konsernya akan mulai, aku tidak mungkin terlambat." kata pria itu.

Sesaat Nakai merasakan dinginnya pisau itu menyentuh lehernya. Keringat mulai membanjiri tubuhnya. Dengan mata yang ketakutan ia pandangi pisau itu lekat-lekat. Tahulah ia bahwa kematiannya sudah dekat. Dan ketika pisau itu dengan luwes menggorok leher Nakai, tak ada yang menunggunya selain dunia lain.

Kini sosok si pembunuh masih nampak di tempat kejadian perkara. Dilepaskannya mantel coklatnya yang telah bermandikan darah segar korbannya. Lalu ia keluarkan pematik yang ia simpan baik-baik di kantongnya. Dinyalakannyalah dan ia biarkan si jago merah melalap habis mantel itu. Dia menyeka darah yang menempel di wajahnya sampai bersih. Di gedung parkir itu terdapat sebuah bungkusan plastik berisi sebuah seragam kebersihan. Dipakainyalah seragam itu. Sebelum meninggalkan TKP, sang pembunuh melihat ke arah korbannya yang kini telah terkapar tak bernyawa. "Kau tahu, pematik selalu kugunakan untuk melenyapkan bukti. Selamat tinggal." katanya.

Dengan cepat, ia memanjat tembok gedung parkir itu. Ia pun segera mendarat persis di seberang gedung konser. Cepat-cepat ia menyebrang dan masuk ke gedung melalui pintu belakang, tempat biasanya para pekerja kebersihan masuk. Tak akan ada yang melihat wajahnya karena selain hari itu sudah malam, ia menggunakan topi dan kaca mata. Ia lalu masuk dan mengambil alat yang biasa digunakan untuk membersihkan toilet. Setelah itu pergilah ia menuju kamar mandi pria. Kamar mandi saat itu sedang sepi. Ia memasang tanda "Toilet sedang dibersihkan, silakan menggunakan toilet yang lain" di pintu kamar mandi. Setelah memastikan bahwa tak ada orang lain di sana, mulailah dia beraksi.

Toilet itu terdiri dari 3 toilet. Toilet ke tiga terdapat tulisan, "Rusak". Masuklah ia ke toilet itu. Ia tahu betul bahwa toilet ini tidak rusak. Sebenarnya sebelumnya ia telah menyembunyikan kopernya ke dalam toilet itu. Diambilanyalah koper itu dan dikeluarkannya isinya. Isinya adalah sebuah jas mahal yang sangat rapi. Dia tanggalkan seragam kebersihannya dan di pakainya jas itu. Ia lepas topi dan kaca mata hitamnya. Kini ia menatap bayangannya sendiri di cermin. Ah, sepertinya rambutnya kurang rapi. Dia mengambil sisir dan segera merapikan rambutnya. Setelah rambutnya rapi, ia memasukkan seragam dan topi itu ke kopernya.

Pintu toilet itu kini ia buka, dibuka secara perlahan sehingga sebisa mungkin tidak menimbulkan suara. Dengan sigap dia memperhatikan keadaan di balik pintu itu. Kosong, tidak ada siapapun. Dengan masih mengendap-endap, dia keluar dari toilet itu. Ia segera keluar dari toilet itu dan segera pergi menuju ke ruang ganti. Di sana ia langsung disambut oleh seorang wanita yang memandangnya dengan pandangan lega.

"Untung kamu datang. Dari mana saja sih?" tanyanya.

"Ah maaf Iijima-san. Aku pulang ke rumah untuk mengambil koperku ini." jawab pria itu sambil menunjukkan kopernya.

"Ya aku tahu. Tadi kan aku sudah menelepon kamu ke rumahmu." kata Iijima. "Tapi menghilang selama 1 jam sebelum konser itu tindakan yang salah. Lain kali jangan melakukannya lagi ya, Inagaki-san."

"Baiklah. Lagi pula ada penonton yang harus aku hibur."

"Berjuanglah!"

"Terimakasih," dia tersenyum, "bagaimanapun aku adalah Goro Inagaki sang pianis jenius."

Setelah mengatakan hal tersebut, sosok pria itu kini tampak sedang berjalan ke arah panggung. Suara tepuk tangan mengiringi langkahnya menuju panggung itu. Kini yang menantinya adalah sebuah piano. Setelah duduk menghadap piano, ia melihat ke sekeliling, banyak juga yang datang kali ini. Ia menatap sang konduktor. Setelah diberi aba-aba, maka pianis itu langsung menekan tuts piano dengan sangat indah.

 

"Wah, indah benar permainannya malam ini." pikir Takuya Kimura dalam hati. Setelah seharian menghadapi kasus pembunuhan akhirnya ia dapat melepaskan kepenatannya. Memang alunan nada yang dialunkan melalui piano dapat menentramkan hatinya. Benar-benar jenius orang itu. Takuya sudah sering mendengar permainan piano Goro Inagaki. Dia telah mendengarnya sejak mereka masih duduk di bangku SMA. Rasanya kejadian itu baru terjadi kemarin, saat mereka pertama kali bertemu.

Alunan nada nan indah itu kini telah berhenti. Segera saja terdengar suara tepuk tangan. Semua orang memberikan standing applause kepada Goro. Takuya pun melakukan hal yang sama. Walaupun sudah sering mendengarkan permainan Goro, ia tetap saja selalu dibuat terkesima. Permainannya benar-benar bagus. Dia memiliki cara menekan tuts piano yang baik. Takuya yakin dengan hal itu karena dia sendiri pernah diberitahu oleh Goro sendiri. Bila penekanannya tidak pas, maka yang terdengar bukanlah nada indah melainkan hanyalah nada sumbang biasa. Ya, Takuya ingat saat ketika Goro mengajarinya bermain piano. Jari-jari Goro dengan lihai menari di atas tuts hitam putih itu. Sedangkan dia sendiri mendapat banyak kesulitan dalam melakukannya dengan benar. Ah, dia memang jenius!

Jumlah penonton sudah mulai berkurang. Banyak yang telah meninggalkan gedung untuk kembali ke rumah mereka masing-masing. "Aku harus mengunjunginya." pikir Takuya.

 

Saat itu ruangan ganti Goro sedang diadakan pesta kecil-kecilan untuk merayakan kesuksesan pentas malam itu. Semua orang mengucapkan selamat padanya. Tapi sebenarnya saat itu ia ingin ditinggalkan sendiri. Namun dia tidak dapat mengusir orang-orang itu. Apa lagi ketika ia melihat seorang wanita cantik di antara orang-orang itu. Dia adalah Miho Kano, kekasihnya.

"Selamat ya Goro!" kata Miho sambil menyerahkan buket bunga mawar putih.

"Er.., terimakasih." kata Goro agak tergagap.

"Pertunjukkan yang hebat! Kau benar-benar jenius."

"Biasa saja kok."

"Ayo kita bergabung dengan yang lain!"

"E... anu, bisa tidak tinggalkan aku sendiri?"

"Kenapa? Ayolah! Kau telah mengadakan konser selama 3 hari, patut dirayakan."

"Aku ingin sendirian dulu." jawab Goro. Lalu ia melihat ke arah kopernya. Koper itu tidak ada. "Mana koperku?" tanyanya.

"Koper?"

"Koper yang biasanya aku bawa itu."

"Mungkin ini Inagaki-san." kata Iijima sambil mengambil koper yang dimaksud. "Ini bukankah koper yang kau tadi ambil itu? Memangnya apa sih isinya, kok sampai bela-belain pulang?"

--------------------------------------------------------------
Wanna see my prince with his guitar?

G-nire
5# 



Rank:in Love
Score:166
Posts:166
Registered:05/26/2006
Time spent: 3387 hours


(Date Posted:06/20/2006 10:24:52)

Bulu kuduk Miho berdiri saat memandang ekspresi wajah Goro. Mata Goro saat itu membelalak seakan sedang melihat suatu yang mengerikan. Pandangannya saat itu bukanlah seperti pandangan Goro yang dikenal Miho selama ini.

"Kembalikan!" seru Goro sambil merebut kopernya dengan kasar.

Suasana hening sekejap. Seluruh mata kini tertuju pada Goro. Biasanya mata yang memandang Goro adalah pandangan mata penuh kekaguman. Namun kini mata-mata itu memandangannya dengan pandangan mata heran. Mereka tidak percaya apa yang baru mereka lihat.

"Goro, kau baik-baik saja?" tanya Miho.

"Tolong tinggalkan aku!" pinta Goro.

"Kenapa?"

"Tinggalkan aku, ok?"

"Baiklah," akhirnya Miho menyerah, "ayo kita pergi!"

Satu-satu orang mulai meninggalkan ruangan itu. Kini tinggalah Goro sendiri di ruangan itu. Ia melihat kopernya. Seandainya saja ada orang yang membukanya, apa kira-kira pendapat mereka ketika menemukan seragam kebersihan di dalam kopernya itu. Seragam ini harus segera dihilangkan.

 

Takuya Kimura saat itu sedang dalam perjalanan menuju ruangan Goro. Dia tidak sabar untuk bertemu temannya itu. Ia ingin sekalu memberikan ucapan selamat padanya. Akhir-akhir ini sulit sekali kalau ia ingin bertemu dengan Goro. Belakangan Goro selalu sibuk mempersiapkan konsernya. Dia sendiri sibuk dengan kasus pianis dari neraka itu. Untung hari ini ia bisa bebas.

Di perjalanan, ia beretemu dengan Miho Kano dan Iijima Michi. Mereka saling menyapa. Takuya tahu gadis itu adalah Miho Kano, pacar Goro yang kini digosipkan akan menikah. Kedua insan itu tampak sedang memperbincangkan sesuatu. Begitu ia menangkap nama Goro, dia langsung mempertajam telinganya. Apa lagi ketika ia mendengar Miho menyebutnya dengan nada jengkel.

"Kenapa sih Goro itu? Kok tiba-tiba marah?" kata Miho.

"Ah tidak usah diambil pusing! Paling juga dia akan tenang lagi." kata Iijima.

"Aku tidak mengerti kenapa dia begitu."

"Jangan diambil pusing! Seniman memang begitu."

"Maksudmu?"

"Kau tidak tahu? Seniman itu biasanya punya kebiasaan aneh."

"Hah, yang benar?!"

"Ya, begitulah dunia seni. Mereka serasa punya dunia sendiri. Dunia yang tidak dapat kita masuki. Dunia yang hanya milik mereka saja."

"Dunia mereka sendiri?"

"Ya...., mungkin dari sanalah sebuah ilham muncul."

"Apakah Goro juga begitu?"

"Ya. Dia suka menyendiri bila sedang mencipta lagu. Bila sedang begitu, aku selalu merasa bahwa dia sedang ada di tempat yang jauh padahal kenyataannya dia ada tepat di depanku. Terkadang dia terlihat menyeramkan juga. Pokoknya kalau dia sedang begitu, benar-benar menyeramkan. Serasa ingin cepat-cepat lari saja."

"Benarkah? Setahuku perilaku anehnya hanyalah suka gigit jari kalau sedang gugup saja."

"Miho-chan belum mengenal Goro kalau begitu. Bukankah kalian sudah pacaran sejak tahun 1999?"

"Tapi putus-nyambung-putus-nyambung."

"Pantas saja. Kalau begitu kau harus lebih mengenalnya. Kalian akan menikah kan?"

"Eh?!"

"Sudahlah jangan mengelak! Kalau memang ingin menikah, menikah saja! Bukankah....,"

Takuya tidak berminat mendengar kelanjutan percakapan itu. Seniman memang sulit dimengerti. Walaupun Takuya dan Goro adalah sahabat, Takuya terkadang tak dapat mengerti jalan pikiran Goro. Tapi melalui percakapan tadi, tahulah Takuya bahwa Goro sedang bad mood. Biasanya kalau sedang bad mood, sisi lain Goro keluar. Sisi yang emosional, beda dengan Goro yang biasanya.

Begitu sampai di depan pintu, Takuya mengetuk pintu. Tak ada jawaban. Biasanya bila sednag bad mood, Goro selalu memainkan piano. Mungkin saat itu ia pun sedang bermain piano sehingga tidak memperhatikan sekelilingnya. Ada satu lagi hal yang mungkin tidak diketahui orang lain, bila Goro sedang bad mood, biasanya ia lupa mengunci pintu. Ternyata memang benar! Pintu tidak terkunci. Takuya segera membuka pintu itu perlahan-lahan.

Apa yang menyambutnya kemudian adalah sesuatu yang menyenangkan. Langsung saja terdengar nada-nada indah yang keluar dari piano yang dimainkan Goro. Lagu yang dimainkan itu belum pernah ia dengar. Alunan nada itu terdengar begitu megah seperti sedang menggambarkan kebesaran seseorang. Tiba-tiba saja nada itu berubah menjadi serentetan nada yang terdengar tajam, sangat tajam. Lagu ini begitu indah sekaligus sedikit ?menakutkan'. Takuya tidak tahu apa yang membuatnya takut saat itu.

Tapi Takuya akhirnya sadar bahwa yang membuat ia takut. tak lain adalah Goro sendiri. Biasanya saat Goro bermain piano ia selalu terlihat gembira ...., atau paling tidak terlihat tenang sekali. Tapi kini, yang ia lihat adalah Goro yang benar-benar ?berbeda'. Goro saat itu terlihat seperti kerasukan sesuatu. Wajahnya dingin tanpa ekspresi. Tapi yang membuat Takuya merinding adalah mata Goro. Ke dua bola mata terlihat begitu tajam, begitu liar, begitu ......, mengerikan. Semakin Takuya melihat Goro, makin ia merasa Goro ?jauh'. Entah kenapa tapi rasanya Goro sedang tenggelam ke dalam dunianya sendiri.

Akhirnya nada-nada indah itu berhenti, lagu telah habis. Takuya benar-benar terkesima mendengar lagu itu. Ia ingin segera bertepuk tangan namun ia batalkan. Pemandangan yang ia lihat sekarang benar-benar membuatnya kaget.

Goro saat itu sedang memejamkan matanya. Ia tampak lelah sekali. Takuya mengerti kenapa Goro merasa lelah. Tiba-tiba saja Goro tersenyum. Namun senyumannya itu bukan senyuman Goro. Senyuman itu lebih mirip seringaian makhluk buas, makhluk buas yang baru melahap mangsanya.

Suasana menjadi tenang.

"Apakah orang ini Goro Inagaki?" pikir Takuya kemudian.

 

Plok .... plok ..... plok

Terdengar suara tepuk tangan dari arah pintu. Hal itu membuat Goro kaget. Dengan spontan ia melihat ke arah pintu. Ternyata itu adalah Takuya.

"Kau membuatku kaget." kata Goro.

"Maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu kaget." kata Takuya. Dia segera berjalan mendekati Goro dan duduk di sebuah kursi. "Makanya lain kali kunci pintu. Bagaimana kalau ada penjahat masuk saat konsentrasimu tertuju pada piano?" Takuya sudah berulang kali menasihati Goro agar merubah kebiasaan buruknya itu namun selalu saja gagal.

"Maaf, aku benar-benar tidak terpikirkan tentang pintu."

"Bagaimana kalau si pianis dari neraka itu datang dan membunuhmu?"

"Tidak mungkin."

"Kenapa? Mungkin saja kan? Kau seorang pianis terkenal yang dijuluki Mozart zaman sekarang. Mungkin saja dia cemburu lalu membunuhmu."

"Jangan nakut-nakutin aku!"seru Goro sambil memukul Takuya. Dia tahu persis hal itu tidak akan terjadi. Tidak mungkin si pianis dari neraka itu membunuh dirinya sendiri. "Ngomong-ngomong kenapa kamu datang? Bukankah lagi sibuk sama kasus itu?"

"Suka-suka aku donk! Kenapa? Gak boleh ya?" tanya Takuya memprotes.

"Boleh, boleh kok. Aku senang kok kamu datang."

Goro menatap Takuya dengan pandangan penuh arti. Hal ini langsung membuat jantung Takuya berdetak kencang. Goro suka sekali melihat ekspresi wajah Takuya yang seperti itu.

--------------------------------------------------------------
Wanna see my prince with his guitar?

G-nire
6# 



Rank:in Love
Score:166
Posts:166
Registered:05/26/2006
Time spent: 3387 hours


(Date Posted:06/20/2006 10:26:59)

"Kamu ini ngapain?!" seru Takuya sambil memukul kepala Goro.

"Hehehehe, maaf-maaf."

"Aku sebenarnya penasaran." kata Takuya. Dia memperhatikan rambut Goro. "Kok tumben-tumbenan rambutmu agak berantakan. Kenapa? Belum hairdryer-in rambut ya?" kata Takuya dengan nada mengejek.

"Ah, itu....," Goro tidak tahu harus berkata apa. Ini pasti karena ?pekerjaan' sebelum konser itu.

"Itu? Itu apa?"

"Anu...., itu...," Goro makin tergagap, "kenapa sih aku harus kasih tahu?"

"Kalau gak mau ya gak usah."

"Kamu sendiri ngapain di sini? Mau ngucapin selamat apa mau ngejek?"

"Dua-duanya." jawab Takuya. Goro memandangannya dengan pandangan memprotes. "Becanda. Jangan dianggap serius!"

Suasana hening sejenak. Goro memperhatikan Takuya lekat-lekat. Takuya ini adalah seorang polisi sedangkan dia seorang pembunuh. Dia tidak ingin berpisah darinya namun jalan keduanya sangatlah berbeda. Pasti akan tiba saat di mana Takuya harus mengejar dirinya.

"Goro! Kau melamun ya?" tanya Takuya.

"Eh ya, ada apa?" tanya Goro kaget.

"Tadi ada pesta ya?"

"Iya, tapi aku mengacaukannya dan menyuruh mereka pulang."

"Pantas saja Miho tadi tampak sebal."

"Benarkah?"

"Ya."

Takuya tampak melihat partitur lagu yang berada di piano. Dia memperhatikannya dengan serius.

"Ini lagu yang tadi kamu mainkan ya?" tanyanya.

"Iya. Aku baru selesai menciptakannya tadi." jawab Goro.

"Apa judulnya?"

"'Kings of Valley'"

"Pantas terdengar megah."

"Ya, kira-kira ini menggambarkan kebesaran seseorang. Tapi dia juga memiliki banyak musuh dan pesaing di sepanjang jalannya."

"Dan akhirnya?"

"Tergantung kesimpulanmu."

"Ah, aku tidak tahu."

"Bagaimana menurutmu? Bagus tidak?"

"Bagus." Takuya agak bergedik mengingat lagu itu. Sebenarnya ia ingin menambahkan kata ?menyeramkan' namun rasanya itu akan melukai perasaan sahabatnya itu.

"Kenapa di bagian terakhirnya kau tulis dengan tinta merah?"

"Suka-sukaku donk!"

"Ya, terserah kamu."

Dalam hati Takuya membatin, "Dasar seniman! Sukanya yang aneh-aneh."

"Bagaimana kalau kita merayakan kesuksesanmu di kedai ramen? Aku yang traktir." ajak Takuya.

"Kedai ramen?" tanya Goro agak ragu-ragu.

"Ayolah. Aku tidak mungkin mengajakmu makan malam di restoran mewah. Kau tahu kan gajiku tidak mungkin cukup. Apalagi aku sudah berkeluarga."

"Ya. mungkin bukan ide yang buruk."

"Jadi?"

"Ayo." jawab Goro sambil tersenyum.

"Ini dia! Ini dia senyuman Goro yang biasanya." pikir Takuya. Lalu senyuman yang tadi itu apa?

Goro segera membereskan barang-barangnya. Cepat-cepat ia masukkan partitur lagu ke dalam kopernya. Tanpa sengaja Takuya melihat sebuah barang yang tak lazim dibawa Goro. Benarkah tadi ia melihat baju yang kelihatan lusuh di dalam koper Goro?

"Takuya," kata Goro, "sebelum kita pergi aku harus ke tempat para pekerja kebersihan. Kemarin aku tertinggal jam tanganku. Mungkin mereka menyimpannya."

"Ya, sudahlah. Ayo kita pergi"

Maka pergilah mereka berdua.

 

"Aku masuk sendiri saja. Kau tunggu di luar." kata Goro begitu mereka telah sampai di ruangan tempat para pekerja kebersihan.

"Baiklah silakan." kata Takuya.

Maka masuklah Goro ke sana. Beruntung sekali ruangan saat itu sedang kosong. Sebenarnya yang ingin ia lakukan bukanlah mencari jam tangannya. Ada suatu hal yang harus ia lakukan, mengembalikan seragam kebersihan. Maka cepat-cepat ia membuka loker salah satu pekerja dan memasukkan seragam itu ke dalamnya. Ok, kini aku tidak membawa bukti lagi, pikir Goro. Perasaannya lebih tenang sekarang.

Setelah itu ia keluar dari ruangannya itu. Ia menunjukkan jam tangannya yang ia ?cari' itu. Setelah itu mereka segera berjalan menuju kedai ramen yang kebetulan letaknya tidak jauh dari sana.

 

"Ah, makan ramen memang enak." kata Takuya.

"Benar." tambah Goro.

"Jadi ingat, pertama ketemu juga pas lagi makan ramen kan? Waktu masih sekolah."

"Iya. Waktu itu kamu nungguin aku kan. Padahal teman-teman yang lain sudah kembali ke kelas."

"Akhirnya kita berdua dimarahin guru karena telat masuk." Takuya tertawa sendiri mengingat kembali masa lalunya.

"Lalu dihukum bersama." tambah Goro bersemangat.

"Sudah lama juga ya. Tapi waktu ketemu kamu, aku gak nyangka kalau kamu itu jago main piano."

"Aku juga gak nyangka tau-tau kamu jadi polisi. Aku selalu berpikir kamu lebih cocok jadi artis."

"Orang tuaku tidak menyetujui. Lagi pula aku juga gak tertarik kok." kata Takuya. "Kamu juga bukannya tidak diizinkan menjadi pianis?"

"Ya. Orang tuaku memang tidak mengerti bakatku itu."

"Coba kalau peristiwa itu tidak terjadi, mungkin kamu benar-benar tidak jadi pianis." kata Takuya. Lalu ia menyadari bahwa kata-katanya telah melukai temannya itu. Goro tampak tertunduk sedih. "Maaf, aku membangkitkan kenangan yang menyakitkan."

"Tidak apa-apa kok."

Tiba-tiba ponsel Takuya bergetar. Dia segera mengangkat telepon itu. Berita yang disampaikan oleh si penelepon benar-benar membuat bulu kuduk Takuya berdiri. Orang itu telah beraksi lagi.

"Ada apa?" tanya Goro.

"Maafkan aku. Aku ada tugas." jawab Takuya.

"Pianis itu beraksi lagi ya?"

"Ya. Gila! Ini sudah kasus yang ke-15."

"Memangnya itu benar-benar pianis dari neraka? Siapa tahu bukan."

"Orang itu selalu menggambarkan not balok di samping mayat korbannya. Itu adalah ciri khasnya."

"Aku baru tahu."

"Hal itu memang sengaja tidak diberitakan."

--------------------------------------------------------------
Wanna see my prince with his guitar?

G-nire
7# 



Rank:in Love
Score:166
Posts:166
Registered:05/26/2006
Time spent: 3387 hours


(Date Posted:06/20/2006 10:46:34)

"Semoga berhasil!"

"Aku pergi dulu." Takuya pun membayar makanan yang mereka pesan.

Selama perjalanan Takuya memikirkan kembali kata-katanya tadi. Dia tidak sengaja mengembalikan kenangan itu. Sebenarnya dia sendiri tidak ingin mengingatnya namun dia sudah terlanjur mengungkitnya. Goro adalah anak yatim piatu. Tapi dulu dia punya keluarga, ada orang tua dan kakak perempuan. Dia kehilangan semua keluarga pada hari itu. Takuya lupa bulan apa namun ia yakin itu Jumat tangal 13. Hari yang dianggap sial.

Hari itu keluarga Inagaki dibantai habis-habisan. Mereka dibunuh oleh kepala keluarganya sendiri, Makoto Inagaki. Goro selamat karena saat itu ia sedang mengikuti perkemahan bersama. Itu benar-benar peristiwa yang sangat mengerikan. Dia dan Gorolah yang pertama kali menemukan mayat keluarga itu. Takuya masih ingat keadaan rumah itu, semuanya berwarna merah darah. Keluarga Inagaki dibunuh dengan sebilah pedang yang menjadi hiasan rumah mereka. Saat ditemukan, ibu dan kakak Goro telah tewas dengan bekas tusukan di dada kiri mereka. Sedangkan si pelaku sendiri tewas bunuh diri dengan pedang menancap di perutnya. Malam sebelumnya terjadi pertengkaran hebat antara kedua orang tua Goro. Mungkin itulah yang memuci terjadinya pembantaian itu. Sejak saat itu Goro diasuh di panti asuhan. Ia lalu melanjutkan kuliah di Universitas Tokyo dan lalu memulai karir sebagai pianis muda. Tak disangka dengan horor di masa lalunya dia dapat menjadi seorang yang terkenal.

Tiba-tiba sebuah pikiran melintas di benak Takuya.

"Apa karena itu dia terlihat begitu menyeramkan saat sedang sendiri?"

Di tempat kejadian, Shingo Katori sedang menunggu kedatangan partnernya, Takuya. Seingatnya Takuya sekarang sedang menghadiri konser temannya. Sebenarnya dia tidak ingin mengganggu istirahat Takuya malam itu namun karena mereka berdua ditugaskan untuk mengungkit kasus pembunuhan pianis dari neraka ya apa boleh buat.

Angin malam bertiup kencang. Suasana malam makin mencekam. Dia memperhatikan sekelilingnya. TKP adalah sebuah gedung parkir berlantai 2. Tidak ada mobil di sana. Gedung parkir itu tidak dipasangi kamera pengawas. Tempat sedikit tertutup. Tidak heran bila tidak ada yang tahu kalau ada pembunuhan.

"Shingo!"

Shingo segera menoleh ke arah si pemanggil. Ternyata Takuya telah sampai. Ia tampak terburu-buru sekali.

"Ah Kimura-kun. Akhirnya kamu datang juga." kata Shingo.

"Mana mayatnya?"

"Di sana." Shingo menunjuk ke arah sesosok tubuh yang terbaring tak bernyawa.

Mereka berdua segera berjalan mendekati mayat itu. Shingo memperhatikan Takuya. Mukanya tampak serius sekali. Ia memperhatikan setiap detil mayat itu. Di samping tubuh itu terdapat gambar not balok yang digambar dengan darah.

Setelah itu Takuya melihat ke arah Shingo. Shingo tahu apa maksudnya. Dia segera mengeluarkan sebuah catatan lalu membacakannya.

"Korban adalah Masahiro Nakai, umur 34 tahun. Dia adalah seorang presenter acara terkenal di tv. Penyebab kematiannya adalah tusukan di perut dan leher."

"Sadis sekali. Tempat ini jadi penuh darah." kata Takuya. "Itu apa?" tanyanya lagi ketika melihat sebuah benda yang hangus terbakar.

"Oh itu. Tidak ada yang tahu pasti itu apa." jawab Shingo.

 "Senjatanya sudah ditemukan?"

"Sudah." jawab Shingo sambil memperlihatkan senjata yang dimaksud. "Sebuah pisau. Panjangnya kira-kira ...,"

"Coba aku lihat dulu." Takuya langsung merebut pisau itu. Ia memperhatikannya dengan seksama. "Apa lagi yang ditemukan di TKP?"

"Sebuah plastik. Cuma itu saja."

"Perkiraan waktu kematian?"

"Sekitar 2-3 jam lalu."

"Kalau begitu saat konser berlangsung donk."

Takuya berjalan melihat keadaan di sana. Dia melihat ke luar melalui sisi lain. Terperanjatlah ia ketika melihat gedung konser di seberang jalan. Berarti saat terjadi pembunuhan, dia berada sangat dekat dengan korban itu.

"Sudah ditemukan saksi."

Terdengar suara seorang polisi muda. Takuya dan Shingo saling berpandangan. Mereka benar-benar berharap agar keterangan saksi ini dapat membantu mereka menemukan titik terang kasus ini. Setelah itu mereka langsung pergi menuju restoran tempat terakhir kali Nakai terlihat.

"Ya, aku benar-benar yakin. Dia memang datang ke tempat ini." kata pelayan restoran.

"Kira-kira jam berapa?" tanya Takuya.

"Kira-kira jam 7 malam."

"Apa dia terlihat bersama orang lain?"

"Ya, ada seorang pria menghampirinya. Katanya dia penggemar Nakai."

"Seperti apa orangnya?" tanya Takuya bersemangat.

"Aku kurang pasti tentang itu." jawab pelayan. Dia tampak mengernyit mencoba mengingat penampilan orang itu. "Dia memakai mantel merah, memakai topi berwarna coklat, dan memakai kacamata hitam." kata penjaga toko itu.

"Bagaimana dengan wajahnya? Kau melihatnya?"

"Tidak. Aku tidak dapat melihat wajahnya. Tapi kira-kira tingginya seperti Tuan."

"Setinggi aku?"

"Ya, setinggi Tuan."

"Apa yang mereka perbincangkan?"

"Hanya seputar acara-acara Nakai." jawab si pelayan itu. Tiba-tiba ada sesuatu yang terlintas di benaknya. "Ah, aku ingat ! Sebelum pergi Nakai bilang bahwa dia harus ke konser Goro Inagaki. Lalu orang itu bilang bahwa dia juga mau ke sana."

"Lalu?"

"Mereka lalu pergi bersama."

"Ah, jadi begitu. Terimakasih."

Takuya dan Shingo saling berpandangan. Jadi orang yang mereka cari adalah pria dengan tinggi kira-kira 175-177 cm, memakai mantel berwarna merak, bertopi coklat, dan berkacamata hitam. Tapi kira-kira di mana mereka harus mulai mencari?

"Lapor Kimura-san," Takuya dikejutkan oleh seorang polisi, "di meja tempat korban dan tersangka duduk tidak ditemukan sidik jari. Ternyata pelayan toko telah menlap meja itu. Terdapat satu puntung rokok."

"Milik siapa ini?" tanya Takuya.

"Aku rasa ini milik Nakai-san." jawab pelayan itu. "Tadi ia merokok dan pria itu meminjaminya pematik."

"Pematiknya seperti apa?"

"Eh, pematik biasa berwarna perak. Kalau tidak salah ada gambar burung elangnya."

"Seperti ini?" tanya Takuya sambil menunjukkan pematik miliknya. Pematik itu berwarna perak dan bergambar burung elang.

"Ya, seperti ini." jawab pelayan itu.

"Kalau begitu terimakasih. Kalau ada sesuatu yang berhubungan dengan kasus ini tolong hubungi aku atau Shingo." kata Takuya sambil memberikan kartu namanya. Setelah itu mereka keluar dari restoran itu.

"Dari mana kamu tahu tentang pematik itu?" tanya Shingo heran.

--------------------------------------------------------------
Wanna see my prince with his guitar?

G-nire
8# 



Rank:in Love
Score:166
Posts:166
Registered:05/26/2006
Time spent: 3387 hours


(Date Posted:06/20/2006 10:48:08)

"Kamu tidak tahu ya? Pematik ini kebanyakan dijual di toko-toko. Banyak orang yang memakai ini. Kebanyakan adalah perokok." jawab Takuya.

"Aku tidak tahu."

"Ini seperti trend namun tidak banyak yang tahu."

Tiba-tiba telepon genggam Takuya berdering. Cepat-cepat Takuya mengangkatnya. Shingo hanya menatap Takuya dengan pandangan bertanya. Takuya tampak serius sekali. Sepertinya kabar yang didengarnya sangat penting. Ketika Takuya menutup teleponnya barulah Shingo berani bertanya.

"Ada apa Kimura-kun? Ada perkembangan?" tanya Shingo penuh harap.

"Ada saksi lagi. Kali ini dekat dengan gedung parkir itu." jawab Takuya.

"Ayo kita ke sana!" seru Shingo penuh semangat.

"Ayo!"

Secepat kilat mereka segera kembali ke mobil dan langsung mengarahkan benda beroda empat itu kembali ke TKP. Mereka berdua sama-sama merasa ingin cepat-cepat menanyai saksi itu. Ternyata yang menunggu mereka adalah seorang lelaki yang bekerja sebagai pekerja kebersihan gedung konser.

"Biar kuingat dulu." kata pria itu. "Saat itu aku sudah bebas. Lalu ketika aku keluar dari gedung aku melihat sosok seseorang keluar dari gedung parkir ini. Dia keluar dari sana." dia menunjuk ke arah yang dimaksud. "Lalu aku menyadari kalau orang itu memakai seragam kebersihan yang sama sepertiku. Aku berpikir dia mungkin saja salah satu pekerja di sini. Aku mau menyapanya tapi dia langsung melewatiku ketika kami berpapasan."

"Seperti apa wajahnya?" tanya Takuya.

"Aku tidak melihatnya. Saat itu sudah malam dan gelap. Lagi pula orang itu memakai topi dan kaca mata hitam."

"Topi?! Apa warnanya?"

"Coba kuingat." dia mengernyitkan dahinya. "Sepertinya coklat. Ya, topinya coklat!"

"Jam berapa kau melihatnya?"

"Sekitar jam 8."

"Lalu apa yang dilakukan orang itu?"

"Dia masuk ke gedung. Setelah itu aku langsung pulang. Kebetetulan rumahku memang tidak jauh dari sini."

"Baiklah terimakasih." Takuya lalu berjalan menjauh memandangi gedung konser. Dia menghela nafas panjang seakan dia sedang putus asa.

Melihat hal ini Shingo langsung menghampiri Takuya. "Ada apa Kimura-kun?"

"Ini semakin rumit." kata Takuya. Dia mengacak-ngacak rambutnya dengan perasaan kalut.

"Rumit? Kenapa?"

"Kalau kata orang itu benar, berarti pelakunya adalah salah satu dari sekian banyak pengunjung konser itu. Lalu mungkin saja benda yang terbakar itu adalah mantel si tersangka."

"Benarkah? Seperti mencari jarum dalam jerami donk!"

"Ya, seperti itu."

"Ah, tenang saja kita pasti bisa!"

"Aku ingin sepertimu, penuh semangat."

"Eh, benarkah?" Shingo terperanjat sedikit mendengar kata seniornya itu. "Mari kita rekonstruksi lagi perkara ini." kata Shingo bersemangat sambil mengeluarkan buku catatannya. "Jadi korban terlihat di restoran jam 7 malam. Lalu sekitar jam 8 kurang 25 menit, dia dan tersangka pergi menuju gedung konser. Tersangka mengenakan mantel merah, topi coklat, dan kaca mata hitam. Lalu sekitar jam 8 malam, tersangka membunuh korban dengan pisau. Setelah itu ia membakar mantelnya lalu berganti pakaian dengan seragam kebersihan."

"Lalu ia masuk ke gedung konser dan membaur dengan para pengunjung. Dia pasti menyembunyikan seragam itu di suatu tempat. Atau mungkin saja dia bawa pulang baju itu. Tak ada yang tahu pasti. Masalahnya sekarang, apakah kita dapat menemukannya di antara ratusan orang? Kita kan tidak mungkin menanyakan orang satu-persatu." tambah Takuya.

"Jadi?" tanya Shingo penuh harap.

"Jadi, kita harus menanyai para staf dulu siapa tahu mereka melihat orang yang mencurigakan." jawab Takuya.

"Yosh, ayo kita lakukan!" kata Shingo penuh semangat.

"Biasa aja donk! Ayo, kita mulai penyelidikan." kata Takuya.

Dalam hati Takuya berpikir, siapa pun pianis dari neraka ini, dia pasti seorang yang jenius. Menyembunyikan jejaknya di tengah keramaian. Menghilangkan semua bukti. Masuk ke gedung konser sebagai petugas kebersihan. Lalu berbaur menjadi penonton lalu pergi bersama para pengunjung yang lain. Benar-benar orang jenius yang mengerikan.

Tapi Takuya tidak menyangka kalau sang pianis dari neraka itu bukan menuju ke tempat penonton namun menuju ke panggung dan menggelar pertunjukkan yang lain.

 

To Continued to the Next Chapter.....

Chapter 2 : The Jobs

--------------------------------------------------------------
Wanna see my prince with his guitar?

G-nire
9# 



Rank:in Love
Score:166
Posts:166
Registered:05/26/2006
Time spent: 3387 hours


(Date Posted:06/20/2006 10:54:22)

Pertama gue mo minta maap sama para ichibannya Nakai yg baca ni fanfic. Bukan berarti gw benci Nakai lho ampe gw bunuh di fanfic gw. Gw juga mo minta maaf ama ichiban Tsu yg baca soalnya nanti perannya Tsu jg rada ga bagus. Kalo dikasih tau skrg ntar spoiler lg.

Sbenarnya rada malu jg posting cerita ini. Tapi karena didukung Love_smap, gw jadi berani posting. Kalo ada pihak yang berkeberatan mohon dimaafkan. Kalo suka ya makasih, kalo gak ya terserah aja. Gw bikin ini atas dasar imajinasi belaka, janagn sibawa hati lho! Kan topiknya memang "Mari Mengarang Cerita" kan? Gw akan mempost tiap aku selese 1 chapter.

Pokoknya selamat baca aja ya!

 

--------------------------------------------------------------
Wanna see my prince with his guitar?

love_smap
10# 



Rank:in Love
Score:143
Posts:142
Registered:05/26/2006
Time spent: 0 hours


(Date Posted:06/23/2006 06:32:12)

Reply to : G-nire

Pertama gue mo minta maap sama para ichibannya Nakai yg baca ni fanfic. Bukan berarti gw benci Nakai lho ampe gw bunuh di fanfic gw. Gw juga mo minta maaf ama ichiban Tsu yg baca soalnya nanti perannya Tsu jg rada ga bagus. Kalo dikasih tau skrg ntar spoiler lg.Sbenarnya rada malu jg posting cerita ini. Tapi karena didukung Love_smap, gw jadi berani posting. Kalo ada pihak yang berkeberatan mohon dimaafkan. Kalo suka ya makasih, kalo gak ya terserah aja. Gw bikin ini atas dasar imajinasi belaka, janagn sibawa hati lho! Kan topiknya memang "Mari Mengarang Cerita" kan? Gw akan mempost tiap aku selese 1 chapter.Pokoknya selamat baca aja ya!
plok...plok...tepuk tangan(jangan gaplok si pengarang)Sugooooooiiiiii deh.Tulis cerita panjang kayak gitu perlu waktu berapa abad?Keren abizzz.Rada ancur sih.

--------------------------------------------------------------
Yoo raimu elek pancen koyok TIKUS
Seneng eker- eker kon koyok TIKUS
Ndak tau adus kon koyok TIKUS
Lha lek koyok ngene kon koyok TIKUS

G-nire
11# 



Rank:in Love
Score:166
Posts:166
Registered:05/26/2006
Time spent: 3387 hours


(Date Posted:08/05/2006 17:50:05)

Reply to : love_smap

Reply to : G-nirePertama gue mo minta maap sama para ichibannya Nakai yg baca ni fanfic. Bukan berarti gw benci Nakai lho ampe gw bunuh di fanfic gw. Gw juga mo minta maaf ama ichiban Tsu yg baca soalnya nanti perannya Tsu jg rada ga bagus. Kalo dikasih tau skrg ntar spoiler lg.Sbenarnya rada malu jg posting cerita ini. Tapi karena didukung Love_smap, gw jadi berani posting. Kalo ada pihak yang berkeberatan mohon dimaafkan. Kalo suka ya makasih, kalo gak ya terserah aja. Gw bikin ini atas dasar imajinasi belaka, janagn sibawa hati lho! Kan topiknya memang "Mari Mengarang Cerita" kan? Gw akan mempost tiap aku selese 1 chapter.Pokoknya selamat baca aja ya!plok...plok...tepuk tangan(jangan gaplok si pengarang)Sugooooooiiiiii deh.Tulis cerita panjang kayak gitu perlu waktu bera

Thank you2, kayaknya cuma lu doank yang baca cerita gw ya? Gw tulis sembunyi-sembunyi takut diliat kakak gw terb******k(sensor). Soalnya tu anak suka ngata-ngatain hasil karya gw. Tapi syukur deh, walau didalam persembunyian tetep lancar bukinnya. Tapi kenapa sekarang gak berlanjut?

Terkahir kali sih gw udah sampe chapter 5. Tiba-tiba Ms.Word gw rusak, so gak bisa nerusin. Rusaknya ampe berapa bulan tuh. Pokoknya dibetulin sebelum gw masuk sekolah. Pas udah bener, tau apa yang terjadi? Filenya ilang! Gw ubek-ubek tetep ga ketemu. Cape deh! Jadi gw mesti ulang lagi dari chapter 2. Padahal sekarang gw udah sekolah & sekolah gw sibuk banget, duh kelas reguler aja begini capenya, gimana yang kelas aksel dan internasionalnya ya? (maklum sekolah unggulan, lho narsis?!). Gw baru mau lanjutin lagi (nulis ulang) chapter 2. 

Kebayang gak penderitaan gw nulis tu cerita. Cape deh!

--------------------------------------------------------------
Wanna see my prince with his guitar?

yanie
12# 



Rank:SmappY
Score:1791
Posts:1685
From: Indonesia
Registered:01/08/2003
Time spent: 893 hours


(Date Posted:08/09/2006 11:08:39)

Waah...ceritanya menyeramkan! xD  Mengingatkan gue ama komik misteri ttg pianis kerasukan gitu. Kayaknya emang profesi pianis paling enak ya, dibikin yg aneh2 dan nyeremin...hihi...

Gue suka opening scene-nya. Suasananya misterius dan menegangkan. Walopun sangat disayangkan, lagi2 Nakai dibikin mati xD lol!  Tapi plot-nya terlalu mirip ama Suna no Utsuwa, buat yg udah nonton Suna, jadi kayak pengulangan aja. Kalo chapter2 seterusnya tetep begitu, pembaca bisa makin males utk nerusin baca. Gue menyarankan plot original yg gak ter-inspirasi dari Suna....jadi gak hanya hasil modifikasi sana-sini dari Suna no Utsuwa^^

Ceritanya sih, udah bagus. Karakter2nya juga menarik tu, hubungan si Goro ama Takuya^^  Asalkan dibikin lebih original aja, plot-nya. Ohya, karakter Miho bakal berperan penting gak, ntar? Kalo perannya besar, karakter Miho musti diperkuat lagi tu. Di chapter 1, dari dialog2nya, kesannya Miho gak lebih dari seorang pacar pengganggu yg nyebelin dan keberadaannya gak dianggep Goro xD  Kecuali, kalo emang itu maksudnya^^  Other than that, its nice!! Keep it up!

Ohya, turut berduka cita ya, file2nya ilang >_<  Menyedihkan sekali...kerja keras sampe chapter 5. Coba chapter 2-5 itu langsung di-post disini, setelah dibikin...jadi kan ga ilang...

Lu masuk SMA mana sih? Kok, kesan2nya kayak SMA gue en minerva xD

 

--------------------------------------------------------------
A Daily Journal: http://yanie02.livejournal.com

love_smap
13# 



Rank:in Love
Score:143
Posts:142
Registered:05/26/2006
Time spent: 0 hours


(Date Posted:08/09/2006 15:00:46)

Reply to : yanie

Waah...ceritanya menyeramkan! xD Mengingatkan gue ama komik misteri ttg pianis kerasukan gitu. Kayaknya emang profesi pianis paling enak ya, dibikin yg aneh2 dan nyeremin...hihi...Gue suka opening scene-nya. Suasananya misterius dan menegangkan. Walopun sangat disayangkan, lagi2 Nakai dibikin mati xD lol! Tapi plot-nya terlalu mirip ama Suna no Utsuwa, buat yg udah nonton Suna, jadi kayak pengulangan aja. Kalo chapter2 seterusnya tetep begitu, pembaca bisa makin males utk nerusin baca. Gue menyarankan plot original yg gak ter-inspirasi dari Suna....jadi gak hanya hasil modifikasi sana-sini dari Suna no Utsuwa^^Ceritanya sih, udah bagus. Karakter2nya juga menarik tu, hubungan si Goro ama Takuya^^ Asalkan dibikin lebih original aja, plot-nya. Ohya, karakter Miho bakal berperan penting gak, ntar? Kalo perannya besar, karakter Miho musti
Hmm...karena nire temen gw,gak atau belom log in,gw kasi tau kalo nire sekolah di SMAN 81 jakarta.Dy emang pinter bikin cerita mcem-macem,apalagi waktu kelas satu SMP ceritanya bagus banget pernah gw baca.En pas kelas duanya bikin cerpen di madink sekolah en bener-bener bagus.Berbakat!

--------------------------------------------------------------
Yoo raimu elek pancen koyok TIKUS
Seneng eker- eker kon koyok TIKUS
Ndak tau adus kon koyok TIKUS
Lha lek koyok ngene kon koyok TIKUS

G-nire
14# 



Rank:in Love
Score:166
Posts:166
Registered:05/26/2006
Time spent: 3387 hours


(Date Posted:08/10/2006 15:27:28)

Love_smap, udah jangan muji-muji donk, kan malu! Gw emang g tau ternyata ada bakat jadi pengarang kali ya? Gak nyangka ternyata gw bisa juga bikin cerita yang memorable juga di mading sekolah.

To Yanie: Thnx udah mau baca. Hmm, setelah mendengar (membaca kaleee!) komentar loe, kayaknya gw mesti bikin beberapa perombakan. Karakternya Miho bakal gw tambahin deh. Tapi tentang perannya ...., ntar baca diri aja yach! Tenang mulai chapter 2 plot cerita udah berbeda sama Suna. Ada permainan memecahkan kode juga kok. Gw usahin cepet.

Minnan-san, sori kalo lanjutannya agak lama. Gw bener-bener mau ngadain perombakan ulang biar gak dibilang kayak Suna. ANd gw masih mikir-mikir buat kodenya. Mau gw ubek-ubek dulu neeh buku sandi gw. 

Maaf juga ya kalo Nakainya gw bunuh duluan.

To Yanie: cuma mo kasi tau, gw emang masuk 81. Apakah dirimu juga  di sana dahulu kala? Kalo iya, kok gurunya suka ngasih tugas aneh-aneh sih? 

--------------------------------------------------------------
Wanna see my prince with his guitar?

yanie
15# 



Rank:SmappY
Score:1791
Posts:1685
From: Indonesia
Registered:01/08/2003
Time spent: 893 hours


(Date Posted:08/10/2006 18:49:31)

Ganbatte kudasai

Oh, ternyata nggak. Gue di 8, bukit duri^^

--------------------------------------------------------------
A Daily Journal: http://yanie02.livejournal.com

G-nire
16# 



Rank:in Love
Score:166
Posts:166
Registered:05/26/2006
Time spent: 3387 hours


(Date Posted:08/11/2006 11:03:57)

Reply to : yanie

Ganbatte kudasaiOh, ternyata nggak. Gue di 8, bukit duri^^
Eh lo di SMA 8?! Sugoi!!! Tu kan SMA plg TOP, kemaren aja peringkat 1 disusul sekolah gw (Hidup 81!, lho?!). Sebenernya gw mau masuk situ, NEM gw cukup koq tapi karena kejauhan jadi gw milih 81. Temen gw seorang Tsuyoshi ichiban juga di situ lho. Iya kan love_smap?

--------------------------------------------------------------
Wanna see my prince with his guitar?

love_smap
17# 



Rank:in Love
Score:143
Posts:142
Registered:05/26/2006
Time spent: 0 hours


(Date Posted:08/16/2006 04:25:07)

Reply to : G-nire

Reply to : yanieGanbatte kudasaiOh, ternyata nggak. Gue di 8, bukit duri^^Eh lo di SMA 8?! Sugoi!!! Tu kan SMA plg TOP, kemaren aja peringkat 1 disusul sekolah gw (Hidup 81!, lho?!). Sebenernya gw mau masuk situ, NEM gw cukup koq tapi karena kejauhan jadi gw milih 81. Temen gw seorang Tsuyoshi ichiban juga di situ lho. Iya kan love_smap?
Iya tuh si puyol eh yowashi di 8,Emang 8 dari kranji tuh ngga jahu ya,Rin?Kira-kira kapan ya Kwon Kusanagi Cindy Jessica Puyol Pudel segala macem lah namanya dy gabung forum indah tapi ancur ini?Kan seru tuh kalo tiba-tiba seorang Tsu-ichiban dateng memperkenalkan diri."Eh halo nama gw Yowashi."Kangen liat rambut ikelnya nih.Tapi mnurut gw dy bukan smappy yang aktif ya?Soalnya kalo ngga diajak ngomong tentang Tsuyoshi sendiri ngga ada ide buat ngomongin Tsu.Kecuali klo gw ngomong banyak yang bagus-bagus tentang Tsu baru tuh anak melek en yang diomongin Tsu terus dengan berbagai ekspresi sok imut kayak Nakai."tuh kan cindy bilang apa Tsuyoshi tuh kan cakeep...yang laen kalah."Trus jangan tersinggung kalo dy bilang,"Erin kog Goro melulu kan cakepan Tsu."(Ini omongan asli lho!Sebenernya ada yang lebih tajem dari itu tapi ngga gw omongin alias tulis soalnya takut diprotes pihak goro-ichiban.Gw protes gw,gw protes puyol kog gitu?)

--------------------------------------------------------------
Yoo raimu elek pancen koyok TIKUS
Seneng eker- eker kon koyok TIKUS
Ndak tau adus kon koyok TIKUS
Lha lek koyok ngene kon koyok TIKUS

G-nire
18# 



Rank:in Love
Score:166
Posts:166
Registered:05/26/2006
Time spent: 3387 hours


(Date Posted:08/25/2006 09:28:52)

Chapter 2: The Jobs

Malam itu, Goro memainkan lagu ?King of The Valley' ketika tiba di apartemennya. Dia benar-benar menikmati lagu itu. Di benaknya terus berkelebat peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam proses pembuatan lagu itu. Untuk menciptakan lagu itu, dia telah menggunakan darah tiga orang yang berbeda. Darah orang-orang yang menyebut diri mereka raja.
Goro memikirkan kembali ketiga korban yang ia bunuh demi terciptanya lagu itu. Pemilik perusahaan bakat, Samuel Kitagawa; Direktur Perusahan Pelangi, Katsuya Ogawa, dan Mc acara terkenal Nakai Masahiro. Ketiga orang itu bagai seoarang raja. Mereka mempunyai rakyat untuk diperintah, mereka mempunyai tempat di mana mereka berkuasa. Namun tempat itu tetap saja lembah. Lembah yang penuh jeritan dan tangis rakyatnya.
Kitagawa, dia selalu memerintah anak didiknya dengan semena-mena, membuat peraturan yang tidak dapat diterima, mengekang kebebasan mereka. Tidak heran kalau ada yang ingin membunuhnya. Ogawa, direktur yang terlalu egois. Selalu mendominasi perusahaan dan tidak membiarkan orang lain mengambil tempatnya. Memerintah bawahannya tanpa memikirkan perasaan yang diperintah. Kalau ada bawahaannya yang ingin membunuhnya, rasanya wajar saja. Nakai, MC sukses dengan banyak talenta. Kenapa ada yang mau membunuh orang ini?
Goro merenung sebentar. Sejauh ini, ia tidak menemukan hal yang aneh dari seorang Nakai Masahiro. Otaknya encer dan berbakat. Dia juga pandai mengkordinasi orang. Meski sifatnya sedikit ?slengean', namun dia juga pribadi yang serius. Mengapa ada yang mau membunuhnya? Tidak ada yang lain kecuali rasa iri hati. Rasa iri hati memang mengerikan. Hanya karena iri, dunia ini telah kehilangan banyak orang berbakat. Pasti berat sekali kehilangan orang seperti Nakai. Semua itu hanya disebabkan oleh perasaan egois semata.
Kini raja di lembah itu telah lengser. Kini raja baru akan memerintah. Akankah keadaan akan lebih baik dari sebelumnya? Goro sendiri tidak tahu. Tapi Goro yakin bahwa pengganti raja-raja tersebut adalah orang yang iri hati dan penuh ambisi. Kelihatan keadaannya akan sama saja malah mungkin akan tambah parah. Apa sebaiknya Goro tidak usah membunuh ketiga orang itu? Sepertinya iya namun untuk membuat lagu yang bagus, dia tidak peduli mau jadi apa orang-orang di lembah itu. Asal dia bisa mencipta lagu, itu sudah cukup. Bayaran tidak jadi soal. Asal ada darah yang ditumpahkan, asal dia bisa mendapatkan ilham, dia akan terima meski harus membunuh belahan jiwanya sendiri.
Goro menekan nada terakhir lagu "King of The Valley". Kata Takuya, lagu ini terdengar megah dan indah. Memang sudah seharusnya begitu, megah dan indah, sama seperti raja. Namun tetap saja akhirnya kemegahan itu hilang. Goro mendesah,
"Ya, inilah lagu yang ingin aku buat. Benar-benar menggambarkan ketiga orang itu."

"Kimura-kun..., jadi gimana sekarang?" Shingo bertanya kepada Takuya perihal kasus yang tengah mereka hadapi ketika mereka tiba di kantor polisi.
"Kita istirahat dulu. Aku capek setelah harus seharian mengintrogasi orang-orang." jawab Takuya.
"Benar juga, kita tadi sudah bertanya kepada para staff konser."
"Coba lihat lihat catatanmu." pinta Takuya. Shingo pun segera menyrahkan buku catatannya kepada Takuya. Takuya membacanya dengan serius.
"Semua orang punya alibi," terang Shingo, "kebanyakan dari mereka sedang sibuk mengurusi tugas masing-masing. Menurut pengakuan mereka, tidak ada yang tiba-tiba menghilang saat itu. Para petugas kebersihan yang bertugas pada hari itu juga tidak melihat ada orang asing yang memakai seragam kebersihan. Orang-orang orkestra telah berada di panggung beserta konduktornya."
"Kesimpulannya semua orang punya alibi." kata Takuya.
"Ada satu orang yang tidak punya Kimura-kun." sela Shingo. "Itu lho, Inagaki-san."
"Goro? Oh ya dia memang tidak punya alibi." Takuya membacakan catatan yang ditulis Shingo. "Menurut orang-orang Goro datang tak lama sebelum konser dimulai. Katanya dia ingin mengambil kopernya yang ketinggalan." kata Takuya.
"Tapi bisa saja kan sebenarnya dia tidak ke sana."
"Maksudmu, Goro yang membunuhnya?" tanya Takuya geli. Dia hampir tak percaya Shingo akan berpikiran seperti itu.
"Betul!" jawab Shingo.
Meledaklah tawa Takuya. Dia benar-benar tidak habis pikir seorang Goro akan menikam orang lain. "Dasar bodoh! Tentu saja dia tidak akan melakukannya! Melihat darah saja sudah takut." kata Takuya sambil memukul pundak Shingo.
"Mungkin saja dia pianis dari neraka itu. Mereka kan sama-sama mengaku sebagi pianis." kata Shingo.
"Pianis di Jepang ini tidak hanya dia tahu. Sudahlah tidak mungkin dia." kata Takuya.
"Kenapa dia keluar dari nama tersangka?" tanya Shingo.
"Aku sangat mengenalnya. Aku dan dia sudah bersahabat sejak SMA. Dia tidak mungkin membunuh orang. Goro membunuh? Menggelikan!" terang Takuya. Dia masih merasa geli.
"Tapi Kimura-kun, meskipun teman tetap saja dia tidak punya alibi."
"Ya juga tapi ....,"
"Jangan memasukkan perasaan pribadi dalam penyelidikan!" sela Shingo serius. Takuya tersentak kaget mendengar Shingo mengatakan hal tersebut. Jarang sekali dia melihat Shingo serius. "Jangan mentang-mentang dia teman Kimura-kun maka dia tidak diperhitungkan! Tersangka adalah tersangka." lanjut Shingo.
"Kata-katamu benar juga. Maafkan aku." Takuya merasa malu dengan dirinya. Sebagai senior tentu saja malu diingatkan oleh juniornya.
"Jadi, apa yang menyebabkan Kimura-kun tidak mencurigai Inagaki-san?" tanya Shingo. Suaranya kembali terdengar santai seperti sedia kala.
"Pertama, dia tidak punya motif." jawab Takuya. "Coba pikirkan, apa motif yang menyebabkan seorang pianis besar sepertinya membunuh seorang MC terkenal seperti Nakai Masahiro?"
"Rasa iri mungkin?" usul Shingo.
"Ckk, ckk, ckk, itu tidak mungkin." bantah Takuya. "Dunia mereka berbeda sekali. Untuk apa seorang pianis membunuh MC? Mereka tenar karena keahlian yang berbeda. Lagi pula, setahuku Goro sendiri jarang bertemu Nakai-san. Paling hanya menjadi bintang tamu acara Nakai saja. Yang paling punya motif adalah Hideaki Takizawa namun pada waktu pembunuhan dia sedang mensyuting acaranya. Itu jelas-jelas bukti bahwa bukan dia pelakunya."
"Benar juga." kata Shingo. Tiba-tiba dia teringat sesautu, "Ah, tadi Kimura-kun bilang pertama. Apa ada yang kedua?"
"Kedua, tidak ada bukti." jawab Takuya.
"Memang tidak ada bukti sih." Shingo mengakui perkataan Takuya.
"Ketiga, Iijima-san selaku manager Goro menelpon Goro ke rumahnya sekitar jam terjadinya pembunuhan. Itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa Goro ada di rumahnya." jawab Takuya.
"Benar juga. Tapi bisa saja itu tidak benar?" usul Shingo.
"Kita bisa menyelidikinya nanti."
"Kalau begitu kenapa dia lama sekali baru kembali?"
"Aku tahu persis kebiasaan Goro." kata Takuya. "Biasanya dia suka tanpa sadar bermain piano. Benar-benar bagus sekali permainannya. Kau pasti akan terhanyut bila mendengar lagunya." kata Takuya.
"Tapi bisa saja...," Shingo tetap ingin mempertahankan pendapatnya namun tindakan segera diberhentikan Takuya.
"Keempat," kata Takuya, "karena Goro terlalu baik. Tidak mungkin dia melukai orang lain. Memang sifatnya agak menyebalkan tapi sebenarnya dia baik."
"Kimura-kun, alasan keempatmu tidak masuk akal." kata Shingo tidak puas. Benar-benar alasan yang sangat aneh bagi Shingo.
"Memang sih, tapi aku tidak percaya bahwa Goro pembunuhnya. Tidak mungkin orang seperti Goro adalah pianis dari neraka itu."
"Apa dia bisa dipercaya?"
"Tentu saja. Dia itu kan sahabatku. Kau pasti akan setuju bila sudah mengenalnya dengan baik."

--------------------------------------------------------------
Wanna see my prince with his guitar?

G-nire
19# 



Rank:in Love
Score:166
Posts:166
Registered:05/26/2006
Time spent: 3387 hours


(Date Posted:08/25/2006 09:33:13)

"Baiklah aku percaya. Aku yakin Kimura-kun sangat mengenalnya." akhirnya Shingo menyerah. Shingo mengambil sebuah majalah dari atas meja. Majalah itu bercover depan Goro Inagaki. Pada majalah itu juga tercantum artikel tentang kesuksesan konsernya. Shingo memperhatikan wajah Goro Inagaki dengan seksama dan membaca artikelnya. "Memang sih terlihat seperti orang yang baik. Kenapa aku bisa mencurigai orang seperti dia ya?" kata Shingo malu. "Pasti enak ya bisa kenal dengan orang seperti dia." kata Shingo.
"Tidak juga. Semakin kau mengenalnya kau bakal tahu sifat jelek Goro." jawab Takuya. Dia mulai jengkel ketika mengingat berbagai sifat buruk Goro yang benar-benar membuatnya naik darah. "Orang itu luar saja yang kalem tapi dalamnya liar. Makin kau mengenalnya, makin .....," Takuya tidak meneruskan kata-katanya. Dia mengingat sosok Goro saat sedang bermain piano dengan tatapan mata setajam elang. Sosok Goro saat dia serasa begitu jauh. Sosok Goro yang bukan Goro.
"Makin apa?" tanya Shingo penasaran.
"Kau akan makin tidak mengenalnya." lanjut Takuya. Sepertinya dia tidak sadar mengucapkan kalimat itu. Matanya memancarkan sorot mata kebingungan.
"Hah, apa? Aku tidak dengar?" tanya Shingo.
"Bukan apa-apa." jawab Takuya. "Pokoknya kau akan merasa jengkel juga bila sudah terlalu dekat dengannya." lanjutnya.
"Tapi aku merasa kita harus menyelidikinya. Kita harus mengintrogasi Inagaki-san." usul Shingo.
"Kau benar juga. Baiklah, besok kita pergi ke apartemennya." kata Takuya.
"Baiklah! Aku tidak sabar ingin bertemu dengan Inagaki-san. Penasaran kayak apa sih orangnya." kata Shingo antusias. Tiba-tiba ada telepon masuk ke telepon genggamnya. Setelah menerima telepon itu, Shingo undur diri karena dia lupa mengembalikan barang pinjamannya ke temannya.
Takuya kembali ditinggalkan sendiri dengan pikirannya. Dia merenung kembali. Benar juga, makin dia mengenal Goro, dia makin tidak mengenal Goro. Makin dia dekat dengan Goro, makin jauh dia dengan Goro. Makin dia berpikir, makin bingunglah dia. Goro tidak mungkin membunuh tapi bila mengingat sosok Goro ?yang lain'rasanya hal itu mungkin saja. Dia tidak percaya bahwa Goro adalah pembunuh berdarah dingin yang dicarinya itu. Namun bila mengingat sosok Goro ?yang lain' itu, rasanya hal itu mungkin saja. Makin lama, Takuya makin bingung. Sebenarnya apa yang dipikirkan Takuya tentang Goro? Semuanya serasa bertentangan sekali. Sebenarnya, apa Takuya percaya pada Goro? Sebenarnya apa Takuya tahu seperti apa dunia Goro Inagaki? Sebenarnya .......,
"Apa aku benar-benar mengenalnya?" tanya Takuya pada dirinya sendiri.

Takako Matsu baru saja kembali dari penyelidikan kasus yang tengah ia tangani. Benar-benar sadis orang zaman sekarang. Dia tengah menghadapi kasus perampokan dan penjarahan yang tengah marak terjadi belakangan ini. Diduga ada sekelompok orang yang melakukan perampokan beruntun ini. Mereka selalu merampok rumah-rumah orang kaya. Terkadang mereka pun membakar rumah yang mereka rampok. Dalam 2 bulan ini telah terjadi 5 kasus seperti itu.
Namun dia ingat sesuatu. Selelah apapun dia, pasti Takuya Kimura lebih lelah darinya. Kasus yang ditangani Takuya memang berat sekali. Kalau Takako menangangi masalah perampokan rumah beruntun, Takuya menangani kasus pembunuh beruntun. Pasti lebih berat. Terkadang Takako sendiri merasa kasihan melihat Takuya. Seandainya mereka bisa bersama-sama menangani kasus itu seperti dulu.
Takako memutuskan untuk beristirahat di taman. Apa yang menunggunya di taman itu benar-benar membuatnya kaget. Dia melihat sosok Takuya sedang duduk merokok di taman itu. Entah kenapa Takako senang sekali melihat Takuya. Namun dia merasa bahwa Takuya benar-benar merasa lelah saat itu. Kasihan sekali Takuya.
"Kimura-san, selamat sore!" sapa Takako ramah.
"Ah, Matsu-san! Selamat sore!" Takuya tampak terkejut sekali melihat Takako. Namun sekejap Takako melihat perubahan sinar mata Takuya. Sepertinya kini perasaannya lebih tenang.
"Sedang apa?" tanya Takako. Dia duduk di samping Takuya.
"Tidak sedang ngapa-ngapain." jawab Takuya. "Kau sendiri?"
"Aku cuma ingin menenangkan pikiran di sini."
"Aku juga."
"Bagaimana perkembangan kasusnya?"
"Tidak baik. Kau sendiri?"
"Sama saja. Benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi."
"Kasus yang kau tangani itu," Takuya mencoba mengingat sebentar, "kasus perampokkan beruntun rumah-rumah daerah elit kan?"
"Benar. Sekarang ini Shimura-san sedang menyelidiki lagi."
"Shimura? Siapa itu?"
"Dia partnerku."
"Seperti apa orangnya? Apa orangnya baik?" Takako menangkap adanya perubahan nada bicara saat Takuya mendengar nama Shimura.
"Dia pria yang baik dan juga pintar. Tenang saja."
"Beneran? Apa dia tidak pernah berbuat macam-macam?"
"Tentu saja tidak! Kenapa sih kok tiba-tiba tanya seperti itu?"
"Ah cuma pingin memastikan kamu baik-baik saja kok." jawab Takuya. Dia memalingkan mukanya ke arah lain. Sepertinya dia sendiri malu menanyakan hal tadi. "Lagi pula kenapa masalah perampokan rumah harus ditangani oleh divisi kita? Kita kan bagian pembunuhan?" tanya Takuya lagi.
"Karena ada pemilik rumah yang dibunuh perampok itu."
"Aku mengerti. Kita berdua rupanya sama-sama menghadapi kasus yang sulit ya."
"Benar juga."
"Aku ingin sekali bisa berpartner lagi denganmu."
"Dulu kita sering ditugaskan bersama ya." Takako mengenang masa-masa indah yang ia habiskan dengan Takuya. Sebenarnya tidak bisa disebut indah karena masa yang ia maksud adalah masa saat mereka berdua bersama-sama memecahkan kasus pembunuhan.
"Sudah lama sekali. Aku ingin lagi berkerja sama denganmu."
"Tapi kan ada Katori-san. Kudengar dia orang yang cemerlang dan gigih."
"Betul, dia memang anak yang pintar." Takuya berhenti sebentar. "Tapi tak sepertimu."
Takako kaget sekali mendengar hal tersebut keluar dari mulut seorang Takuya Kimura.
"Maaf, aku ngomong yang bukan-bukan." kata Takuya. Sepertinya ada yang ingin dia katakan namun entah kenapa tidak jadi.
Suasana hening sesaat. Tidak ada dari mereka berdua yang membuka mulut.
"Ano.., aku harus pergi." kata Takako. "Kimura-san, kita harus sama-sama berjuang ya!"
"Betul. Jaga diri baik-baik! Jangan memaksakan diri." kata Takuya.
"Sampai jumpa!"
"Sampai jumpa!"
Takako segera pergi meninggalkan Takuya. Selama ini sebenarnya dia merasa bahwa Takuya bukanlah pria biasa. Satu-satunya pria yang membuat hatinya berdebar, pria yang menyokongnya, pria yang membawa gejolak hidup pada dirinya. Namun sayang Takuya telah berkeluarga. Kini dia hanyalah harapan semata.
Telepon genggam Takako bergetar, menandakan bahwa ada pesan yang masuk. Takako segera membaca pesan tersebut. Seketika perasaan gembira melanda tubuhnya. Pesan itu hanya bertuliskan, "Berjuanglah! Kau pasti bisa!". Namun bukan pesan itu yang membuatnya senang melainkan sang pengirim.
"Terimakasih Takuya." desah Takako sambil membaca pesan itu. Dia segera pergi dengan semangat. Namun dia masih berpikir. Apakah boleh dia memiliki perasaan seperti ini?

Amie Nobuko duduk di taman seorang diri. Dia tidak peduli dengan aktivitas orang lain di sekelilingnya. Pandangannya tidak menentu. Dia selalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ada seseorang yang ia tunggu, seseorang yang mungkin saja tidak ingin ia temui.
Jantungnya berdebar kencang. Keringat dingin membanjiri wajahnya. Badannya berguncang dengan kencang. Kini ia lakukan adalah menunggu, menunggu dalam kegalauan. Dia ingin pergi secepat mungkin namun dia tidak mungkin meninggalkan orang yang ia tunggu. Ia tidak ingin menemui orang itu namun ia membutuhkan pertolongan orang itu. Saat itu perasaannya benar-benar sangat kacau.

--------------------------------------------------------------
Wanna see my prince with his guitar?

G-nire
20# 



Rank:in Love
Score:166
Posts:166
Registered:05/26/2006
Time spent: 3387 hours


(Date Posted:08/25/2006 09:40:45)

Dia sedang menunggu pianis dari neraka.
Amie mengingat kembali saat ketika dia memutuskan untuk berhubungan dengan pianis dari neraka itu. Alasan yang mendorongnya tak lain adalah kekasihnya sendiri, Tatsuya Kuroba. Dia tidak terima perbuatan buruk yang dilakukan pria itu. Ternyata di balik sifatnya yang gemar bercanda dan tidak pernah serius, tersimpan sifat seorang penipu. Tatsuya dan Amie sama-sama bekerja di sebuah kedai tempura milik ayah Amie. Ternyata selama ini Tatsuya sudah diam-diam menggelapkan uang. Tapi yang tidak bisa ia terima adalah perlakuan Tatsuya setelah itu. Dia jadi sering bersikap kasar pada Amie sejak mereka bertengkar karena masalah itu. Hal itu tidak bisa dimaafkan.
Tak lama dia mendapat informasi tentang website "Orang yang Keberadaannya Ingin Kau Hilangkan". Web itu adalah web yang membicarakan tentang kasus pembunuhan. Ada topik tentang "Siapa yang ingin kau hilangkan dan kenapa?". Semula dia hanya iseng-iseng mengatakan bahwa dia ingin Tatsuya tidak ada. Tapi dia tidak menyangka bahwa hal itu akan terjadi. Apa yang terjadi berikutnya sangatlah mengerikan.
Keesokan harinya, dia mendapat telepon dari seseorang yang tidak ia kenal. Kata-kata orang tersebut sungguh mengerikan. "Apa kau Amie Nobuko?" tanya orang itu. Amie mengiyakannya. "Jika kau serius ingin membunuh Tatsuya Kuroba pikirkan lagi. Aku akan beri waktu 3 hari untuk berpikir. 3 hari lagi aku akan menelponmu." lanjut orang itu.
Bulu kuduk Amie berdiri. "Siapa ini?" tanyanya takut-takut.
"Aku bukan siapa-siapa." jawab orang itu. "Aku hanya orang yang berbaik hati membantu orang lain melenyapkan keberadaan orang yang tidak mereka inginkan. Namun aku juga seorang pianis." Lalu ia menutup teleponnya.
Tubuh Amie langsung lemas. Itu tadi pasti orang yang mengaku dirinya sebagai pianis dari neraka. Memang sebelumnya dia mendengar bahwa bila orang yang memasukkan nama orang yang ia benci, mungkin saja ada yang ingin ?melenyapkan' orang itu untuk kita. Namun tak disangka bahwa orang itu adalah si pianis dari neraka. Pembunuh yang sedang marak dibicarakan itu.
Selama 3 hari itu, terjadi pergolakan batin dalam diri Amie. Akankah dia memutuskan untuk membunuh Tatsuya. Tindakannya memang sudah tidak dimaafkan! Semua orang punya batas kesabaran. Segala perlakuan buruk Tsuyoshi sudah kelewatan. Namun di lain pihak, Amie tetap mencintai Tatsuya. Akankah dia rela kehilangan Tatsuya? Tidak! Dia juga tidak ingin Tatsuya mati. Dia percaya bahwa Tatsuya pasti akan merubah kelakuannya. Namun ternyata perkiraannya salah.
Saat mereka bertemu pada hari ke 3, atau hari perjanjian dengan pianis dari neraka, sebuah pertengkaran hebat tak dapat dielakkan. Tatsuya masih bersifat kasar pada Amie. Dia bahkan membentak Ami tanpa alasan yang jelas. Dan lagi, ternyata Tatsuya masih melakukan penggelapan uang. Sudah habis kesabaran Amie. Dia akan melapor pada ayahnya. Namun Tatsuya mencegahnya berbuat demikian. Dicengkramnyalah tangan Amie kuat-kuat. Sambil sedikit mengancam, dia memohon agar Amie membatalkan niatnya.
"Tidak! Aku akan tetap melapor! Aku tidak bisa membiarkanmu meraup untung dari kedai ini!" kata Amie sambil mencoba melepaskan diri.
"Batalkan niatmu! Kau pikir untuk apa aku harus sampai melakukan hal tersebut!" tanya Tatsuya. Suaranya kecil namun terdengar mengancam.
"Aku tidak peduli! Aku harus melakukannya!" kata Amie. "Lepaskan aku!" jerit Amie.
"Jangan menjerit! Aku mohon! Dengarkan aku dulu! Aku tidak melakukan itu demi diriku sendiri! Aku terpaksa!"
"Sudah kubilang aku tidak peduli! Lepaskan aku atau aku akan teriak!" anacam Amie.
Tatsuya pun melepaskan cengkramannya. Dia lalu menatap Amie dengan pandangan memohon. "Apa kau akan tetap melapor?" tanya Tatsuya.
"Ten...tentu saja." jawab Amie ragu.
"Jangan lapor!" kata Tsuyoshi. Suaranya kini tidak lagi terdengar seperti suara orang yang memohon namun lebih kepada mengancam. "Kau akan menyesal!" lanjutnya.
Amie merasakan pandangan tajam Tatsuya. Ini bukan seperti dia yang biasanya. Maka larilah Amie menjauhi Tatsuya. Untuk sesaat Amie merasa takut sekali pada Tatsuya. Tapi tetap saja dia merasa benci dengan pria itu. Tapi setelah insiden tadi, Amie sendiri menjadi takut melapor kepada ayahnya. Selain itu, perlakuan Tatsuya padanya makin kasar. "Lebih baik kamu juga tidak ada." kata Tatsuya kepadanya. Hal itu benar-benar membuat Amie sakit hati. Hatinya bagai diiris sembilu.
Malamnya dia menerima telepon dari pianis dari neraka. Kali ini suaranya terdengar lain dari yang sebelumnya. Bila sebelumnya suara yang terdengar adalah suara seorang bapak-bapak yang sudah berumur, kini suara yang terdengar adalah suara anak kecil. Tapi Amie yakin sekali bahwa orang yang menelponnya itu adalah sang pianis. Sekali lagi orang itu menanyakan kepastian Amie. Apakah dia ingin membunuh Tsuyoshi atau tidak. Orang itu mengingatkan sekali lagi agar Amie benar-benar membuat keputusan yang tepat karena mereka sedang bermain dengan nyawa orang. Setelah berpikir sesaat akhirnya Amie membuat keputusan.
"Iya, aku ingin Tatsuya Kuroba tidak ada." jawab Amie.
"Baiklah," kata pianis dari neraka, "Baiklah temui aku di taman dekat rumahmu. Bawa foro Tatsuya Kuroba.Duduk di salah satu bangku di sana. Aku akan menemuinya sekitar jam 4 sore. Ingat bila aku bilang ?Angin' kau harus menjawab dengan ?Badai'. Mengerti?"
"Baik." jawab Amie. Setelah itu pembicaraan itu selesai.
Amie melihat arojinya. Sudah hampir jam 4. Kini perasaannya makin kacau. Kini ia makin mempertanyakan apakah ia ingin membunuh Tatsuya atau tidak. Mungkin saja benar bahwa Tatsuya terpaksa melakukan tindakan penggelapan uang itu. Pada dasarnya Tatsuya adalah orang yang baik. Tapi bila mengingat perlakuan Tatsuya padanya, rasa kasihan Amie berkurang. Dia tidak ingin Tatsuya mati namun dia juga tidak ingin melihat Tatsuya hidup seenaknya seperti itu. Paling tidak, harus ada pelajaran untuknya.
Arlojinya kini menunjukkan jam 4 sore. Amie mulai melihat sekelilingnya. Siapa tahu pianis itu akan datang sebentar lagi. Sementara dia asyik melihat, dia tidak sadar bahwa ada seorang pria yang duduk di sampingnya. Pria itu memakai mantel hitam dan memakai topi berpinggir lebar berwarna hitam. Amie memperhatikan orang itu. Tampaknya orang itu sudah tua. Wajahnya penuh kerutan di sana-sini. Tidak mungkin orang ini pianis dari neraka itu.
"Ah, hari ini benar-benar enak untuk jalan-jalan." kata pria tua itu. "Angin nya tidak kencang. Aku suka sekali keluar pada hari berangin seperti ini." lanjut pria itu. Amie menangkap suatu maksud dalam kalimat itu. Orang ini menekankan kata angin. Jangan-jangan orang ini ....,
"Benar juga, Kek. Sepertinya tidak akan terjadi badai." kata Amie.
"Hmm, rupanya kau masih ingat. Bagus!" gumam pria itu. Ternyata orang yang sekarang berhadapan dengannya ini adalah orang yang ia tunggu, pianis dari neraka.
"Jadi, kau adalah ....," kata Amie. Suaranya gemetaran.
"Foto." pinta orang itu.
"Oh ya, tunggu sebentar." Amie segera memberikan foto Tatsuya pada pria itu. Pria itu mengamatinya sebentar lalu bergegas beranjak pergi.
"Tunggu! Tunggu sebentar!" pinta Amie. Pria itu segera duduk kembali. "Bisakah kau tidak membunuhnya? Hanya memberinya pelajaran yang pantas atas apa yang ia lakukan?" pinta Amie.
"Menghukum? Aku belum pernah melakukannya namun aku akan mencobanya." jawab pria itu. "Kau ingin aku menghukumnya sesuai perbuataannya kan?" tanyanya.
"Benar. Tapi tolong jangan bunuh dia! Bagaimanapun juga, perasaanku terhadap Tatsuya tetap sama." pinta Amie.
"Baiklah, aku mengerti." jawab pria itu.
"Ngomong-ngomong siapa kau?" tanya Amie kemudian.
"Aku hanya orang yang berbaik hati melenyapkan keberadaan keberadaan orang lain."
"Apa kau perlu bayaran?" tanya Amie.
Pria itu menulis lagi, "Aku bukan pembunuh bayaran namun sukarela. Selain itu aku telah mendapat apa yang aku inginkan dengan melaksanakan ekskusi mati. Kedua pihak sama-sama diuntungkan."
"Jadi, kau akan menghukum orang itu?" tanya Amie.
"Aku akan menghukumnya. Selamat sore Nobuko-san!" ia lalu segera pergi meninggalkan Amie sendiri. Kini Amie benar-benar merasa takut sekali. Tubuhnya berguncang hebat sekali. Dunia serasa berputar. Apakah pilihannya tepat? Apakah dengan menghukum Tatsuya, dia akan merasa puas? Dia sendiri bingung akan pilihannya ini.
Kini ia hanya dapat menunggu perkerjaan pianis dari neraka.

--------------------------------------------------------------
Wanna see my prince with his guitar?

Support us

Just click the links below and your donations will make a difference here.

 
G-nire
21# 



Rank:in Love
Score:166
Posts:166
Registered:05/26/2006
Time spent: 3387 hours


(Date Posted:08/25/2006 09:47:42)

Rumah Tsuyoshi Kusanagi tampak biasa saja bila dilihat dari luar. Rumah tersebut kecil namun memiliki taman yang ditumbuhi tanaman yang indah serta sebuah pohon yang berdaun lebat. Namun siapa sangka di bawah rumah kecil itu terdapat sebuah laboratorium bawah tanah tempat Tsuyoshi menghabiskan sepanjang hari meneliti dan bereksperimen. Apa yang ditelitinya tidak dapat dibicarakan. Namun belakangan ini dia selalu mendapatkan pesanan dari seseorang. Tsuyoshi selalu memenuhi permintaan orang tersebut. Dan hari ini orang itu akan datang mengambil barang pesanannya itu.
Tsuyoshi melihat tumpukkan koran yang beterbaran di atas mejanya. Dia mengambil salah satu koran yang selama ini menarik perhatiannya. Tsuyoshi sekali lagi membaca berita yang tengah digembar-gemborkan media massa di laboratorium bawah tanahnya. Berita itu tak lain dan tak bukan adalah berita pembunuhan seorang MC terkenal bernama Masahiro Nakai. Dia membaca berita itu dengan teliti. Dikatakan bahwa MC itu dibunuh oleh pianis dari neraka. Dia mendesah pelan.
"Kasihan sekali orang itu. Padahal aku suka melihat dia di TV." kata Tsuyoshi. "Rupanya si pianis itu sudah terkenal. Sama seperti pekerjaannya pada siang hari."
Tsuyoshi meletakkan koran yang ia baca. Dia melihat kembali benda yang berada di depannya. Seperangkat alat penyamaran yang sangat sempurna. Selain itu ada beberapa obat pelumpuh syaraf serta obat bius. Tsuyoshi puas sekali melihat topeng yang ia buat. Pasti orang itu akan puas sekali saat mengambil barang-barang ini.
Tiba-tiba terdengar suara bel rumahnya berdering. Rupanya sang pemesan telah datang. Maka cepat-cepat Tsuyoshi ke luar dari labortorium bawah tanahnya. Setelah ke luar dari ruangan kecil yang penuh berbagai macam alat-alat penelitian itu, ia segera bergegas menuju pintu depan. Begitu dia membuka pintu, dilihatnya seorang pria tua berdiri menanti pintu dibukakan.
"Selamat sore, Kek! Ada yang bisa saya bantu?" tanya Tsuyoshi.
"Aku ingin mengambil sesuatu." jawab pria tua itu.
"Akhirnya kau datang juga! Masuk, masuk! Aku telah menyelesaikan barang pesananmu itu." kata Tsuyoshi. Maka masuklah Tsuyoshi bersama pria tua itu. Pria itu langsung duduk di sofa setelah dipersilakan Tsuyoshi. "Kau mau minum teh dulu Kakek?" tawar Tsuyoshi.
"Mana barangnya?" tanya pria tua itu. Tapi kali ini suaranya tidak terdengar seperti orang tua lagi.
"Jangan terburu-buru! Memang kau ada janji dengan siapa?" tanya Tsuyoshi.
"Aku tidak punya janji dengan siapa pun. Hanya saja aku merasa aku harus cepat pulang. Cepatlah Kusanagi!" jawab pria itu lagi.
"Sudah kubilang panggil saja aku Tsuyoshi. Bukankah kita sudah berteman sejak kuliah?" kata Tsuyoshi. "Ngomong-ngomong sampai kapan kau akan memakai topeng itu? Lepas saja," lanjutnya, "Goro-chan."
Pria itu segera meremas kulit wajahnya. Seketika kulit wajahnya terlepas dari mukanya. Tapi tunggu dulu, itu bukan kulit. Benda yang lepas dari wajah pria itu adalah topeng yang menyerupai kulit. Kini wajah yang terlihat adalah wajah seorang pria tampan dengan sorotan mata sedingin es. Wajah itu tak lain adalah wajah dari seorang pianis besar bernama Goro Inagaki.
"Mana barangnya?" tanya Goro kemudian.
"Ada di bawah. Tunggu aku ambil dulu." maka pergilah Tsuyoshi ke lab bawah tanahnya. Dia segera mengambil barang pesanan Goro dan secepat mungkin kembali. "Ini dia." kata Tsuyoshi. Dia meletakkan barang tersebut di depan Goro. "Ada obat pelumpuh syaraf baru buatanku. Obat ini akan membuat orang tidak bisa menggerakkan seluruh badannya namun orang tersebut tidak akan kehilangan kesadarannya. Lalu ini dua topeng yang aku buat sesuai dengan foto yang kau berikan padaku."
Goro memperhatikan topeng yang dibuatkan Tsuyoshi untukknya. Dia melihat topeng itu. Benar-benar mirip dengan muka orang aslinya. "Topengnya mirip sekali. Benar-benar hebat hasil kerjamu." puji Goro.
"Bukan hanya itu," tambah Tsuyoshi, "ini adalah topeng kulit istimewa hasil ciptaanku. Mulai dari ekspresi, wajah, hingga saat disentuh pun sangat menyerupai kulit manusia asli."
"Memang benar." komentar Goro sambil meraba tekstur kedua topeng tersebut. Benar-benar mendetail sekali. Goro merasa bahwa tekstur topeng ini sangat menyerupai tekstur wajah orang aslinya.
"Memang ini siapa sih?" tanya Tsuyoshi.
"Yang ini," kata Goro sambil menunjuk topeng yang tergeletak di meja, "adalah topeng dari wajah seorang polisi bernama Shingo Katori."
"Polisi yang mengejarmu?" tanya Dokuro lagi.
"Benar. Tapi aku sendiri belum pernah bertemu dengannya. Jadi aku belum bernai menyamar menjadi dirinya." jawab Goro.
"Kalau yang ini?" tanya Tsuyoshi sambil menunjuk topeng yang dari tadi dilihat Goro.
"Kalau yang ini topeng dari sahabatku, Takuya Kimura." jawab Goro.
"Ah, aku ingat! Dia sahabatmu yang polisi itu kan? Kau mau menyamar menjadinya?"
"Mungkin."
"Kenapa?"
Goro tersenyum. "Karena kami sahabat baik." jawab Goro. Tsuyoshi bergidik saat Goro mengucapkan kalimat itu. Entah kenapa dia merasa bahwa terlihat sangat aneh saat itu. "Karena kami bersahabat baik maka aku tahu seperti apa Takuya itu. Karena kami bersahabat baik pasti kecurigaannya kepadaku akan berkurang. Meski rekannya mencurigaiku pasti dia akan mengutarakan alasan untuk membelaku. Memang enak punya sahabat yang menyelediki kejahatanmu. Dia pasti tidak akan mencurigaimu. Pasti dia tidak akan membayangkan bahwa aku memanfaatkannya."
Goro melihat arlojinya. "Ah, aku harus kembali sekarang." kata Goro. Dia segera membereskan segala keperluannya dan memasukkannya ke dalam kopernya. Dia juga segera memakai topeng pria tua lagi. "Terimakasih atas semuanya. Bila tidak ada kamu entah bagaimana aku mendapat semua ini." kata Goro.
"Tenang saja! Aku suka dengan pekerjaan ini. Ini juga aku lakukan sebagai balas jasa."
"Benar juga. Sejak aku membunuh atasanmu yang sering menyiksamu, kau menjadi supplier buatku. Itu pertama kali aku membunuh untuk orang lain. Kau klien pertamaku." kat Goro. "Hanya kau yang tahu tentang jati diriku. Kau bisa tutup mulut kan?" tanya Goro.
"Tenang saja! Tidak mungkin aku buka mulut. Bila ingin sesuatu bilang saja. Sudah jadi pekerjaanku untuk membantumu."
"Benar. Semua orang punya pekerjaannya masing-masing. Pekerjaanmu adalah membantuku. Itu termasuk dengan menyimpan rahasia ini. Bila kau sampai buka mulut," kata Goro, "aku pastikan itu adalah tindakan bodoh terakhir yang kau lakukan di dunia ini."
"Mengerti."
"Lagipula kita berdua saling memegang kartu as masing-masing." kata Goro. "Tentu saja melakukan penelitian di lingkungan perumahan seperti ini adalah ilegal. Apalagi dengan semua cairan-cairan kimia itu."
"Aku tahu. Karena itulah aku berusaha agar jangan sampai ketahuan. Lagipula laboratorium ini aku pakai untuk membantumu kan?"
"Benar. Bila rahasiaku terbongkar, aku pastikan rahasiamu juga."
Maka pergilah Goro dari rumah Tsuyoshi. Bila diingat-ingat, mereka telah berhubungan sejak kuliah. Kebetulan kuliah di universitas yang sama hanya saja fakultas berbeda. Entah sejak kapan mereka mulai akrab. Bagi Tsuyoshi, Goro adalah teman senasib seperjuangan. Mereka sama-sama tidak punya banyak teman. Selain itu entah kenapa mereka juga sering jadi objek tangan-tangan tidak bertanggung jawab. Mungkin karena itulah mereka jadi akrab. Mereka saling menjaga rahasia masing-masing. Sejak mereka berdua bekerja, hubungan mereka juga masih dekat. Tak disangka ketika Tsuyoshi menceritakan tentang atasannya Goro akan menawarkan diri untuk membunuhnya. Sejak saat itu hubungan mereka berubah menjadi seperti ini. Tapi sejak saat itu pula mereka tidak berbicara layaknya teman.
"Ah, orang yang mengerikan Goro Inagaki itu." gumam Dokuro.

Sesampainya di depan pintu apartemennya, Goro memperhatikan keadaaan sekitarnya. Saat itu sudah malam hari. Tidak ada orang lain selain Goro di sana. Secepat mungkin Goro mencopot topengnya. Ia lalu bergegas membuka pintu. Namun dia menyadari suatu hal yang aneh. Seperti yang ia duga, pintunya tidak terkunci. Ini aneh sekali karena Goro yakin tadi dia telah mengunci pintu tadi. Berarti ada orang di dalam.
Maka masuklah Goro. Dia berusaha agar terlihat tenang namun matanya tetap awas. Lampu apartemennya telah dinyalakan. Dan dia melihat sepasang sepatu wanita di sana. Goro mehela nafas. Ternyata yang berada di sana adalah orang itu.
Goro segera pergi menuju dapur. Di sana ia mendapati seorang wanita sedang memasak makan malam porsi dua orang. Goro segera menghampiri wanita itu dan merangkulnya dari belakang.
"Miho-chan, aku pulang." bisik Goro.
"Oh Goro! Selamat datang!" kata Miho. Dia tampak tekerjut sekali. Apalagi dia telah dipeluk diam-diam dari belakang. "Kau membuatku kaget." lanjut Miho.
"Kau yang membuatku kaget. Tiba-tiba ke sini tanpa memberitahuku dulu. Manalagi saat aku sedang pergi lagi." Goro mencoba membela dirinya.
"Memang salahku sih ke sini tiba-tiba." Miho akhirnya mengakui kesalahannya. "Aku membuatkan makan malam untukmu. Kau tak keberatan kan aku memakai dapurmu?"
"Tentu tidak. Aku senang sekali kau mau memasak di sini untukku." jawab Goro. Mukanya tampak berseri-seri.
"Bagus deh kalau begitu." kata Miho. "Kalau begitu, ayo makan!"
"Tunggu dulu, aku harus memberi makan kucingku dulu." kata Goro. Goro pun segera meletakkan makanan ke dalam mangkuk makanan kucing.
"Dasar perhatian sekali sih sama kucing! Apa kau juga tidak memperhatikanku?"
"Eh?! Apa maksudmu?"
"Kemarin saat kita mengadakan pesta kenapa kau merajuk seperti itu?"
"Oh, itu karena aku sedang banyak pikiran." jawab Goro. Goro memperhatikan wajah kekasihnya itu. Sepertinya perkataannya kemarin telah membuat Miho sedih dan kecewa. "Maafkan tindakanku kemarin. Padahal Miho telah susah-susah menyiapkan pesta untukku."
"Tidak apa-apa!" kata Miho. "Mari kita makan sekarang!"
Mereka pun segera makan bersama. Tak disangka masakan Miho enak juga. Di dunia ini hanya Miho yang mampu membuat perasaan Goro tenang. Goro selalu merasa tenang sekali kalau bisa berada di samping Miho. Rasanya segala beban Goro terasa ringan setiap kali melihat senyumannya.
"Terimakasih makanannya." kata Goro ketika mereka selesai menyantap makan malam mereka. "Enak juga." lanjut Goro.
"Benarkah?" tanya Miho senang.
"Benar." jawab Goro. Goro tersenyum senang. "Rasanya seperti suami-istri ya?"
"Jadi setiap kali kau pulang, aku akan mengucapkan ?selamat datang'." sambung Miho.
"Lalu aku akan memelukmu sambil berkata ?aku pulang'." lanjut Goro. Mereka saling bertatapan. Lama-kelamaan jarak di antara mereka berkurang dan wajah keduanya semakin mendekat. Akhirnya bibir mereka saling bertemu. Namun akhirnya Goro menjauhkan lagi wajahnya karena dia ingat sesuatu. Kopernya masih tertinggal di pintu depan. Cepat-cepat dia mengambil koper itu dan menyimpannya di dalam lemari bajunya.
Begitu kembali, Miho sedang bermain dengan kedua kucing Goro. Kucing-kucing itu memang senang sekali dielus. Goro lalu memperhatikan wajah Miho. Sepertinya ada yang salah pada diri Miho.
"Miho-chan, ada apa? Sepertinya ada yang sedang dipikirkan." tanya Goro.
"Tidak ada kok." jawab Miho. Suasana hening sesaat. Kemudian Miho melanjutkan, "Sebenarnya ada. Ada sesuatu yang aku pikirkan."
"Apa itu?"
"Soal kita." jawab Miho. Miho kini menatap Goro. "Apa kau benar-benar mencintaiku?" tanyanya.
"Tentu saja. Aku sangat mencintaimu."
"Sebenarnya telah lama aku pikirkan. Kita telah lama berpacaran. Dalam tahap ini aku tidak mengerti satu hal. Kenapa kau belum melamarku?"
"Melamar? Maksudmu pernikahan?"
"Ya. Pasti ada suatu alasan kenapa kita belum menikah. Padahal aku yakin sekali bahwa kau berpikiran sama denganku."
"Itu karena aku belum siap."
"Belum siap?"
"Masih ada urusan yang harus aku selesaikan. Aku harus menyelesaikan perkejaanku."
"Pekerjaan?"
"Ya, pekerjaanku sebagai pianis adalah mencipta lagu. Aku masih ingin menciptakan lagu."
"Tapi kau masih menciptakan lagu walaupun sudah menikah."
"Bukan itu masalahnya. Aku .....," Goro tidak tahu mau berkata apa. Kata-katanya terputus. Sebenarnya kalimat yang ingin ia katakan adalah "Aku ini pembunuh". Namun tidak mungkin ia mengatakannya.
"Apa? Teruskan kata-katamu." Miho tampak makin pensaran.
"Aku tidak bisa. Aku tidak bisa mengatakannya kepadamu. Ini menyangkut pekerjaanku." jawab Goro. Di dalam, rasanya Goro ingin menjerit saat dia mengatakan ini.
"Pekerjaan? Apa itu?" tanya Miho.
"Aku tidak bisa memberitahukanmu sekarang. Mungkin lain waktu." jawab Goro.
"Apakah ini bukan karena wanita lain?" tanya Miho. "Apa bukan karena Mai Hosho? Dia pacar lamamu kan?"
"Mai? Aku dan dia sudah putus. Kau tahu kan?"
"Kudengar dia menderita TBC. Sejak kalian berpisah kalian tidak berhubungan lagi."
"Benar. Aku dan dia sudah tidak ada apa-apa lagi."
"Apa dia masih menghubungimu? Apa kau masih berhubungan dengannya?"
"Tidak." Goro mencoba untuk meyakinkan Miho. "Dengar, aku dan dia sudah berpisah. Kami tidak berhubungan lagi. Apa kau percaya padaku?"
Miho menundukkan kepala. Sepertinya dia sedang berpikir. Setelah itu ia mengangkat wajahnya sambil tersenyum. "Aku percaya." katanya.
"Baguslah." kata Goro. Perasaannya lebih tenang sekarang.
"Ngomong-ngomong, pekerjaan apa yang sedang kau lakukan?" tanya Miho lagi. Kini suaranya terdengar khawatir.
"Aku tidak bisa mengatakannya." jawab Goro.
"Berbahayakah?" tanyanya lagi. "Apakah karena itu belakangan ini kau menjadi lebih pemurung?" Goro memperhatikan wajah Miho. Wajahnya tampak khawatir sekali. Sepertinya Miho benar-benar mengkhawatirkan Goro.
"Tidak apa-apa. Tenang saja." kata Goro. Dia tersenyum dengan maksud agar Miho sedikit lebih tenang.
"Kapan kira-kira pekerjaanmu selesai?"
"Aku sekarang merencanakan menciptakan 10 lagu. Aku ingin menutup karirku saat lagu ke-10 selesai. Sekarang ini aku baru menciptakan 5 lagu. Kurang 5 lagi."
"5 lagi ya. Baguslah." kata Miho. Perasaannya kini lebih tenang. "Kalau kau ingin aku membantumu, katakan saja. Aku akan membantu apapun." tawar Miho.
"Benarkah?" tanya Goro.
"Benar." jawab Miho.
"Terima kasih." kata Goro.
"Aku sudah harus pulang." kata Miho. "Selamat malam!" Miho berpamitan dengan Goro.
Akhirnya Goro benar-benar sendiri. Dia tak menyangka bahwa dia mengungkit tentang pekerjaannya yang satu lagi. Kenapa dia tidak bisa mengelak dari Miho. Padahal dia bisa mengelak Takuya, sahabatnya. Kenapa?
Goro melihat kertas partitur yang berada di atas mejanya. Goro telah menulis 5 lagu, kurang 5 lagu lagi dari 10 lagu terakhir yang akan menutup karirnya. Ke-10 lagu ini bukan lagu biasa karena lahir dari peristiwa pembunuhan yang dilakukan Goro. Lagu-lagu sebelumnya juga ada yang terilham dari pembunuhan yang dilakukan Goro tapi ke-10 lagu ini berbeda. Lagu-lagu ini benar-benar menggambarkan peristiwa pembunuhan itu. Tinggal 5 lagu setelah itu selesai sudah. Mempunyai 2 kehidupan yang berbeda memang melelahkan. Salah satunya harus dihentikan. Goro akan menutup salah satu tirai pertunjukkannya. Namun sekarang tirai panggung mana yang akan dia tutup. Pekerjaannya sebagai pianis atau yang satu lagi.
Goro teringat kata-kata Miho. Tadi dia menyinggung soal Mai Hosho. Mai adalah mantan kekasihnya. Mereka telah berpisah karena masalah kesehatan Mai. Sekarang ini kesehatan Mai sudah membaik. Sepertinya sekarang ini timbul niat Mai untuk kembali kepada Goro. Apalagi sekarang Goro telah terkenal, sukses, dan banyak uang. Tapi sepertinya sudah terlambat. Kini Goro telah memiliki Miho.
"Apa dia masih menghubungimu? Apa kau masih berhubungan dengannya?"
Kalimat itu terus terngiang di benak Goro. Memang Goro sudah tidak punya perasaan apa-apa terhadap Mai. Terutama karena Goro sangat mencintai Miho. Tapi sebenarnya Mai telah ....,
"Dalam sebulan ini dia telah menelponku 3 kali." gumam Goro.

--------------------------------------------------------------
Wanna see my prince with his guitar?

G-nire
22# 



Rank:in Love
Score:166
Posts:166
Registered:05/26/2006
Time spent: 3387 hours


(Date Posted:08/25/2006 09:50:52)

"Selamat siang Kimura-kun!" kata Shingo ketika dia bertemu dengan Takuya di depan kantor polisi. Hari ini mereka bersama-sama akan pergi mengintrogasi Goro.
"Siang!" balas Takuya.
"Kok dari tadi aku telepon tidak diangkat?" tanya Shingo.
"Maaf handphone-ku ketinggalan." jawab Takuya.
"Bohong?! Ternyata Kimura-kun bisa lupa juga. Berita besar! Berita besar! Ternyata ....," Shingo tidak melanjutkan kata-katanya karena kepalanya ?dikeplak' Takuya.
"Bisa diam gak sih? Masih pagi tahu!" kata Takuya jengkel.

"Ada apa? Kok rame?" kata Takako ketika melihat 2 insan itu sedang bercanda ria di siang yang cerah ini.
"Tidak kok." jawab Shingo. "Aku cuma bilang kalau Kimura-kun itu ....," sekali lagi kepala Shingo ?dikeplak' Takuya.
"Bisa diam gak sih!" suara Takuya terdengar meninggi.
"Kimura-san, terimakasih yang kemarin ya." kata Takako.
"Kemarin?" tanya Takuya.
"Karena Kimura-san menyemangatiku, aku jadi semangat menghadapi kasusku. Terimakasih." kata Takako sambil membungkuk.
"Ah yang kemarin ya? Bagus deh kalau kau semangat lagi." kata Takuya. Mereka saling bertatapan malu-malu.
"Wah ...., dua pasang burung-burung cinta." kata Shingo menggoda.
"Apa?" tanya Takuya sambil melihat Shingo.
"Gak ada apa-apa kok." jawab Shingo. Shingo melihat jam tangannya. "Kita harus pergi sekarang Kimura-kun. Inagaki-san pasti sudah menunggu." kata Shingo mengingatkan.
"Betul juga. Kami pergi dulu ya Matsu-san." kata Takuya berpamitan.
"Semoga berhasil!" kata Takako.
Lalu ke-2 orang itu pergi menuju mobil. Mobil itu segera melaju ke luar dari kantor polisi. Ingin rasanya ia bersama-sama Takuya memecahkan kasus yang ditangani Takuya. Tapi itu mungkin dilakukan. Mereka menghadapi kasus yang berbeda. Tak apalah toh ada Shingo.
Takako teringat sesuatu. Dia mengambil handphone-nya. Dia menuliskan kata "Berjuanglah! Jangan menyerah!" lalu mengirimnya ke nomor Takuya. Dia berharap dengan pesan ini Takuya bisa lebih bersemangat seperti dia semangat karena pesan Takuya. Namun ia tidak tahu bahwa saat itu handphone Takuya tidak berada di tangan Takuya melainkan di tempat lain .Ia juga tidak tahu bahwa ada orang yang membaca pesannya itu dengan hati panas.

Shingo menekan bel apartemen Goro ketika mereka sampai di sana. Dalam hati dia masih penasaran dengan orang yang bernama Goro Inagaki itu. Kenapa dia begitu mencurigainya? Takuya tampak begitu mempercayai orang ini.
Tak lama pintu terbuka. Mereka berdua langsung disambut dengan senyuman ramah sang tuan rumah. Goro segera menyapa kedua orang itu. Tanpa sadar Takuya dan Goro mulai saling bercanda. Shingo menganalisa sebentar. Sepertinya Goro orang bertangan kidal. Mukanya tampan dan terlihat ramah. Ternyata Goro dan Takuya memiliki tinggi yang nyaris sama. Tetapi tetap saja mereka berdua lebih pendek dari Shingo.
"Tidak. Aku tidak dapat melihat wajahnya. Tapi kira-kira tingginya seperti Tuan."
Shingo teringat kalimat yang diucapkan oleh pelayan tempat Nakai dan pianis dari neraka itu menghabiskan waktu bersama. Menurut kesaksian pelayan itu, tinggi sang pelaku kira-kira 175-177 cm. Itu kira-kira sama seperti tinggi badan Takuya.
"...kira-kira tingginya seperti Tuan."
Tingginya seperti Takuya. Shingo melihat Goro lagi. Tinggi mereka berdua memang nyaris sama. Bila perkataan pelayan itu benar, berarti itu mendukung sekali teori Shingo. Tapi tetap saja belum ada bukti.
"Hei Shingo! Kau melamun ya?" tegur Takuya.
Perkataan itu membuat Shingo kaget. Ternyata mereka berdua telah selesai mengobrol. "Maafkan aku Kimura-kun." kata Shingo. Dia melihat Goro kembali. Kini Goro balik memandangnya. Pandangannya saat itu begitu aneh. Sepertinya Goro juga sedang menelitinya. "Ah, aku lupa! Salam kenal! Aku Shingo Katori. Senang bertemu denganmu." kata Shingo memperkenalkan diri.
"Salam kenal! Aku Goro Inagaki. Senang bertemu denganmu." kata Goro. Sekali lagi Goro memperhatikan Shingo. Ia lalu tersenyum. Shingo merasa aneh sekali senyuman itu. Senyuman itu seperti senyuman ketika seseorang mendapatkan sesuatu yang ia inginkan. Apa kira-kira yang membuat Goro tersenyum seperti itu? "Mari masuk." ajak Goro. Mereka bertiga pun segera masuk.
Mereka segera dipersilakan duduk. Sementara sang tamu menunggu, sang tuan rumah menghilang untuk menyiapkan teh. Shingo mengamati ruangan tempat mereka menunggu. Terdapat cermin besar di ruangan itu. Di sana juga terdapat sebuah grand piano. Terpajang pula berbagai penghargaan yang pernah diraih Goro. Shingo hanya dapat berdecak kagurm melihatnya. Ternyata Goro benar-benar pianis yang diakui samapi tingkat internasional sekalipun. Benar-benar sukses.
Goro datang dan menghidangkan teh kepada tamunya. Setelah mereka berbasa-basi sebentar (atau mungkin juga lama soalnya Goro dan Takuya bercerita tentang masa lalu mereka pada Shingo), akhirnya mereka masuk ke tujuan awal Shingo dan Takuya datang ke sana.
"Jadi, ada apa kalian ke mari?" tanya Goro. Sepertinya pertanyaan ini hanya untuk formalitas saja. Pasti dia sudah tahu.
"Ada beberapa hal yang ingin kami tanyakan." jawab Takuya. Takuya memandang ke arah Shingo. Tanpa buang waktu Shingo segera membuka catatannya dan segera bersiap menulis data-data yang bisa mereka kerok dari Goro.
"Mau tanya apa? Apa kalian mau tanya tentang kasus Nakai?" tanya Goro.
"Benar." jawab Takuya. "Katanya kamu pulang sebelum konser ya?"
"Betul. Kalau tidak salah sekitar jam 6.30." jawab Goro.
"Dan baru kembali sekitar jam ...," Takuya melihat ke arah Shingo dengan pandangan mata bertanya.
"Jam 8. Beberapa menit sebelum konser dimulai." sambung Shingo sambil membaca catatan sebelumnya.
"Bisa ceritakan apa yang kau lakukan?" tanya Takuya lagi.
"Aku mengambil koperku. Setelah itu tiba-tiba saja aku ingin main piano. Begitu sadar ternyata sudah hampir jam 7.30. Setelah itu aku segera pergi ke gedung konser." jawab Goro.
"Kudengar kau naik taksi dari gedung konser sampai sini." kata Takuya.
"Benar." jawab Goro.
"Dari sini ke sana juga naik taksi?"
"Tidak. Aku jalan kaki ke sana. Kebetulan letaknya tidak terlalu jauh."
"Kenapa kau jalan kaki?"
"Karena saat itu langit sangat indah. Itu membuatku lebih tenang menghadapi konser."
"Selain itu apakah benar Iijima menelponmu ke sini?"
"Ya. Kira-kira jam 7.00 dan jam 7.30. Aku baru sadar waktu karena teleponnya."
"Benarkah?" tanya Shingo. Dia benar-benar ingin memastikan hal ini.
"Tentu saja. Periksa saja rekening teleponku kalau tidak percaya." jawab Goro.
"Kalau begitu itu sudah cukup membuktikan alibimu." kata Takuya. "Syukurlah karena di antara para tersangka hanya kau yang tidak berada di gedung konser. Aku sempat berpikir pembunuhnya itu kamu lho." lanjut Takuya.
"Jangan becanda donk Kimura-kun!" kata Goro.
"Tenang, aku percaya sepenuhnya padamu." kata Takuya. Dia melihat Shingo. "Shingo sangat mencurigaimu lho Goro-chan." kata Takuya.
"Benarkah itu Katori-san?" tanya Goro tak percaya.
"Eh ...., soal itu ....," kata Shingo ling-lung.
"Kalau ada yang ingin ditanyakan, tanyakan saja." kata Takuya.
Shingo ragu sesaat. Ia lalu bertanya, "Kenapa Inagaki-san kembali ke sini?"
"Karena aku ketinggalan koperku." jawab Goro.
"Benarkah? Benarkah cuma itu?" tanya Shingo lagi. Shingo menata mata Goro. Ia mulai merasakan bahwa lawannya itu mulai melemah.
"Sebenarnya," kata Goro, "bukan itu."
"Kalau begitu apa?" tanya Shingo lagi.
"Sebenarnya .....," kata Goro ragu-ragu, "sebenarnya aku lupa memberi makan kucingku."
"Apa?!" seru Shingo tak percaya.
"Benar. Kucing-kucingku belum kuberi makan. Karena khawatir, aku memutuskan untuk pulang dulu. Aku takut jadi kepikiran saat konser." lanjut Goro.
Shingo terbelalak mendengar jawaban ini. Orang ini rupanya sangat sayang pada kucingnya. Sebenarnya itu memang benar atau hanya alasan semata. Shingo masih belum bisa menerima alasan yang tidak lazim ini. Ia melihat ke arah Takuya. Saat itu sepertinya Takuya geram sekali mendengar jawaban Goro.
"Kamu ini!" seru Takuya. Tangannya menggenggam bantal kuat-kuat. "Dasar maniak kucing!" kata Takuya seraya melempar bantal yang ia pegang dari tadi. Bantal itu tepat mendarat di muka Goro.
"Kimura-kun, tenang sedikit!" pinta Shingo.
"Tahu tidak sih, orang ini dari dulu memang seperti itu!" kata Takuya pada Shingo. "Sayang banget sama kucingnya. Dulu tuh pernah dia ninggalin aku gara-gara belum kasih makan kucingnya. Pernah juga lagi asyik-asyiknya jalan-jalan dia pulang gara-gara kucingnya. Pernah juga lagi tur konser dia pulang gara-gara kucingnya. Dia lebih milih kucingnya daripada temannya. Dasar! Kamu dengar tidak sih Goro?" kata Takuya geram. Dia segera berpaling pada Goro.
"Eh, apa? Apa kau bilang sesuatu?" tanya Goro. Sepertinya dari tadi dia tidak menyimak karena dia sedang sibuk bercermin untuk merapikan rambutnya.
"Kamu ini! Kalau orang ngomong jangan dicuekin! Berhenti urus rambut itu dan dengarkan aku!" bentak Takuya. Sepertinya Takuya benar-benar geram terhadap tingkah Goro yang satu ini.
Shingo hanya dapat melihat kejadian ini dengan mata terbelalak. Ternyata orang yang disebut-sebut sebagai pianis nomor satu Jepang itu punya tingkah yang rada miring. Kalau melihat hal ini, mulailah luntur pikiran Shingo bahwa orang ?miring' di depannya ini adalah seorang pembunuh.
Begitu sadar dari lamunannya ternyata dia telah ditinggal berdua dengan Goro. Rupanya selama dia merenung (atau mungkin juga bengong) Takuya pergi ke toilet. Suasana jadi terasa menengang. Tak satu pun dari antara mereka membuka suara terlebih dahulu. Shingo merasakan perasaan yang tidak nyaman menyelimuti dirinya. Rasanya dia kurang suka dengan orang di depannya ini.
"Kenapa diam saja?" akhirnya Goro buka suara duluan. "Tak ada pertanyaan lagi?" tanyanya lagi.
"Bukan. Aku cuma ...," bantah Shingo, "cuma gak tahu mau bilang apa. Habis tiba-tiba ditinggal berdua dengan orang sepertimu sih."
"Kalau begitu aku yang tanya sekarang," kata Goro, "kenapa kau mencurigaiku?". Kini Goro menatap Shingo dengan tatapan yang tajam. Tatapan yang berbeda sekali dengan tatapan Goro yang tadi. Sepertinya mata itu ingin berkata ?jangan curigai aku!'.
"T-t-ti..tidak. Aku tidak mencurigaimu." bantah Shingo. Nyalinya serasa hilang begitu saja.
"Jangan bohong! Apa karena aku tidak punya alibi? Tapi alibi tak hanya bisa membuktikan seseorang ada di suatu tempat kan? Bisa saja dia membuat alibi palsu. Atau bisa saja orang itu dijebak sehingga tidak punya alibi." kata Goro.
"Aku tidak bermaksud mencurigaimu Inagaki-san. Tapi paling tidak sekarang kami akan menyelidiki alibimu dulu." kata Shingo.
"Oh, begitu." gumam Goro. "Ngomong-ngomong, kau yang menangani kasus pembunuhan konglemerat bulan lalu kan?" tanya Goro. Kini mata tajam itu telah kembali menjadi mata Goro yang semula.
"Ya, memang kenapa?" Shingo mengiyakan.
"Aku selalu mengikuti kasus itu. Kau hebat ya! Masih muda sudah bisa memecahkan kasus rumit seperti itu." kaat Goro. Tiba-tiba saja pembicaraan beralih menjadi kasus yang ditangani Shingo.
"Pembunuh itu kini tengah menjalani masa hukuman di penjara. Setahuku sekarang perilakunya telah berubah." kata Shingo mengakhiri kisahnya.
"Pembunuh jahat itu kini telah menjadi baik." tambah Takuya. Rupanya dia baru saja kembali dari toilet.
"Benar juga. Memang selalu ada waktu bagi orang jahat untuk bertobat." kata Shingo.
"Ya, orang jahat juga bisa jadi baik kan?" kata Takuya. Kini Takuya melihat ke arah Goro. "Kalau orang kayak kamu tidak mungkin jadi penjahat ya?" tanya Takuya bercanda.
Goro menghembus nafas. Sekali lagi raut wajahnya berubah. Dia balas menatap Takuya dengan tatapan yang sedikit mengancam. "Takuya," katanya, "orang baik pun bisa jadi jahat."
"Apa?" tanya Takuya. Matanya memancarkan ketisak percayaannya.
"Tapi tenang kasus seperti itu jarang terjadi kok." tambah Goro. Wajahnya kembali berseri-seri seperti biasa. "Nah, kalian masih punya pekerjaan lain kan? Sebaiknya kalian cepat menyelesaikan perkejaan tersebut." katanya lagi.
"Kau sendiri?" tanya Takuya.
"Setiap orang punya perkejaannya masing-masing yang harus diselesaikan. Aku juga mau menyelesaikan pekerjaanku." jawab Goro.
"Kalau mau ngusir bilang saja." kata Takuya tersinggung. "Tapi baiklah, kami pergi dulu." lanjut Takuya.
"Inagaki-san, terimakasih atas bantuannya." kata Shingo.
Setelah semuanya pergi, kembali Goro menyunggingkan senyuman sinisnya. "Shingo Katori," gumamnya, "aku sudah mengerti jalan pikiranmu. Suatu saat nanti aku akan menyamar menjadimu."
Setelah kedua orang itu meninggalkan tempat kediaman sang pianis besar itu. Dalam perjalan, Shingo masih mempertanyakan maksud dari beberapa perkataan Goro. Bila dilihat dari luar, Goro tampak kalem. Bila dilhat ?dalamnya', ternyata dia punya kebiasaan yang aneh. Tapi di saat tertentu, dia terlihat begitu ....., mengancam.
"Kenapa melamun?" tanya Takuya.
"Tidak. Aku cuma kepikiran tentang kunjungan tadi." jawab Shingo.
"Kepikiran Goro ya?" tanya Takuya. Shingo tidak menjawabnya namun Takuya tahu sebenarnya Shingo sedang memikirkan orang itu. "Jangan dipikirkan! Dia memang begitu." lanjut Takuya.
"Tadi dia tersenyum saat memperhatikanku. Kenapa ya?" tanya Shingo.
"Ah, jangan dipedulikan! Itu hanya membuatmu makin banyak pikiran." pinta Takuya.
"Ternyata dia seperti yang dibilang Kimura-kun ya." kata Shingo. "Orangnya ...,"
"Agak nyebelin ya?" potong Takuya. Shingo mengangguk. "Dia memang nyebelin. Bayangkan penderitaanku yang harus berteman dengan dia selama ini!"
"Kalau begitu kenapa gak ditinggalin saja?" tanya Shingo.
"Tidak bisa. Kamu sudah seperti saudara saja." jawab Takuya. Dia mulai mengingat kenangan masa lalunya dengan Goro. "Dia tidak punya banyak teman dulu. Kerjanya selalu bermain-main dengan piano. Kalau tidak salah dulu di SMP, temannya selalu mengerjainya. Orang tuanya juga tidak menyetujui cita-citanya sebagai pianis. Baru setelah berteman denganku dia jadi lebih sosial. Tapi kasihan juga nasibnya. Keluarganya meninggal dengan sadis."
"Oh." komentar Shingo. "Tadi dia bilang tentang orang baik bisa ...,"
"Aku sarankan jangan terlalu memikirkan kata-kata Goro." sela Takuya. "Terkadang dia suka ngomong yang aneh-aneh. Namanya juga pianis. Mereka itu nyentrik semua." lanjut Takuya.
"Mungkin ada benarnya juga." kata Shingo.
"Tapi kita harus menyelesaikan pekerjaan kita sebagai polisi." kata Takuya. "Kita harus memecahkan kasus ini."
"Betul sekali!" tambah Shingo. "Ngomong-ngomong, pekerjaan apa yang dimaksud Ingaki-san?" tanya Shingo.
"Tentu saja pekerjaannya sebagai pianis," jawab Takuya, "mencipta lagu."
Tapi kedua orang itu tidak tahu apa yang dimaksud dengan menciptakan lagu bagi Goro. Menciptakan lagu lagi berarti menciptakan pembunuhan lagi.

Pada malam hari Takuya pulang ke rumahnya. Seperti biasa dia disambut oleh kedua buah hatinya. Setelah itu istrinya, Shizuka, datang menyambutnya. Takuya merasa ada yang aneh dalam tingkah laku istrinya. Sepertinya ada yang lain.
"Kenapa sih kamu?" tanya Takuya.
"Tidak kok." jawab Shizuka. "Oh ya, tadi ada SMS masuk ke handphonemu. Makanya jangan meninggalkan barang penting seperti itu di rumah donk," kata Shizuka, "apalagi untuk urusan seperti itu."
"Apa?" tanya Takuya.
"Tidak ada apa-apa." jawab Shizuka. Dia segera kembali mengurusi kedua anak perempuannya.
Takuya segera mencari handphonenya. Setelah dia menemukan benda tersebut, dia segera membaca pesan yang dimaksud Shizuka. Ternyata itu pesan dari Takako. Takuya segera bersemangat kembali begitu membaca pesan tersebut.
Tapi dia merasa ada yang aneh. Kalau memang ini pesan baru berarti seharusnya belum dibaca olehnya. Tapi di sini pesan itu sudah terbaca sebelumnya. Berarti pesan ini ada yang membaca sebelum dirinya. Kemungkinan besar saat pesan ini masuk ke handphonenya.
"Jangan-jangan dia membacanya?" pikir Takuya.

Goro melihat kembali catatan yang ia buat. Catatan itu berisi nama calon kliennya. Nama-nama tersebut didapatnya dari websitenya. Ternyata banyak juga orang-orang yang menginginkan kematian orang lain. Di zaman sekarang persaingan memang mulai bertambah sulit. Tentu saja perlu cara untuk memenangkan persaingan tersebut. Salah satunya adalah dengan menghilang pesaing lainnya.
Perhatian Goro terhenti pada satu nama. Nama tersebut sudah tidak asing karena orang tersebut sudah pernah dihubungi Goro. Kini Goro hanya tinggal meminta kepastian orang tersebut. Setelah sekali lagi membaca keterangannya, barulah Goro mencoba menelepon orang tersebut. Tidak perlu alat untuk merubah suara, Goro sangat menguasai cara merubah suara. Dengan bermain-main sedikit dengan pita suaranya, dia dapat mengubah suaranya.
"Halo." terdengar suara dari ujung telepon.
"Halo," kata Goro, "ini Tatsuya Kuroba?"
"Benar. Siapa ya?" tanya Tatsuya.
"Bagaimana? Apakah kau yakin ingin menghilangkan keberadaan 3 orang itu?" tanya Goro.
Terdengar sekali bahwa orang yang bernama Tatsuya itu sangat kaget. "Ini..., ini pianis dari neraka?" tanya Tatsuya dengan suara yang bergetar. Goro tidak menjawab. "Benar, aku ingin ketiga orang itu mati. Terutama dia. Orang yang telah mencurigaiku selama ini. Dia tidak mau mengerti bahwa aku melakukan penggelapan uang untuk membantu keluargaku yang sedang terilit hutang. Padahal selama ini aku tahu kalau dia selingkuh dengan lelaki lain hanya karena laki-laki itu lebih kaya dariku. Padahal selama ini dia selalu bilang sangat mencintaiku. Padahal aku sangat mencintainya." lanjut Tatsuya.
"Apakah aku yakin ingin membunuh kekasihmu?" tanya Goro.
"Benar. Aku ingin Amie Nobuko mati. Aku tidak mungkin membiarkannya hidup. Kedua orang itu juga. Kedua orang itu telah menginjak-nginjak martabatku. Aku tidak tahan lagi. Aku juga punya batas kesabaran." jawab Tatsuya.
"Kalau begitu kita akan membuat pertemuan untuk membahas langkah selanjutnya." kata Goro. "Di dekat tempat kerjamu ada mall kan? Pergilah ke sana dan tunggu aku di kedai pizza di lantai 1 sekitar jam 1 siang. Kalau aku bilang ?Matahari' kau harus katakan ?Bulan'." setelah itu Goro menutup teleponnya.
Betapa ironisnya permintaan kali ini. Tak pernah disangka, Goro akan menerima permintaan saling bunuh dari sepasang kekasih. Seharusnya cinta dapat mendamaikan orang tapi kenapa justru sekarang cinta membuat orang saling bunuh. Apakah ini disebabkan karena uang semata? Memang kekuataan uang sangat mengerikan. Uang dapat merubah orang baik jadi jahat. Tapi Goro mengingat sesuatu. Amie tidak ingin Tatsuya mati melainkan hanya dihukum. Kira-kira hukuman macam apa yang pantas untuknya.
Namun tentunya hal ini dapat terhindari jika mereka saling terbuka satu sama lain. Merekalah yang membuat lubang kubur mereka sendiri. Tindakan mereka yang saling menutupi dosa mereka yang menyebabkan hal ini. Menutupi dosa .....
Goro mengambil kertas partiturnya serta alat tulisnya. Dia menulis satu kata sebagai judul. Kata yang ditulis adalah Impenit?t.
"Impenit?t, ya, itulah mereka." gumam Goro.
Setelah itu Goro mulai menuliskan nada pembuka lagunya.

To Be Continued
Next Chapter : The Meeting

--------------------------------------------------------------
Wanna see my prince with his guitar?

<<Previous ThreadNext Thread>>
Page 1 / 1    





>>AFFILIATE<<


Biggest Coupon for Cucusoft Converter,Lowest Price 50% Off Online once in a blue moon!
Sign Up | Create | About Us | SiteMap | Features | Forums | Show Off | Faq | Help
Copyright © 2000-2009 Aimoo Free Forum All rights reserved.