Ditulis saat harus bikin essay '7 transformations of Leadership'. Setelah gw baca lagi, gw mengerti bahwa menulis tidak boleh saat mood sedang jelek, hehehe... Ca'ur!
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
SATONAKA - Grup Xk84
Nilai: 360
Hasil Ujian: Lulus
Jadwal Upacara Pengambilan Sumpah: Selasa, 5 Januari 2021 jam 09.00
Lokasi: SMAhall A, B, C
Satonaka tak mengedipkan matanya kali ini, lalu membaca ulang 4 baris tulisan di depan matanya itu. Dipastikannya kalau ia tak salah membaca, kalau ia benar-benar lulus. Kartu tanda peserta ujian di tangannya kembali dicocokkan dengan pengumuman, siapa tahu ada ketidak-cocokan data. Tapi semuanya cocok. Satonaka yang dimaksud memang benar dirinya.
'Yatta!', sorak Satonaka dalam hati. 'Penantian selama 16 tahun, berakhir hari ini...' 1 bulan dari sekarang, ia akan menjadi warga negara SMAnation yang dipimpin Presiden Nakai. Dalam benaknya, terbayang jari-jari Presiden Nakai menyematkan pin SMACitizen yang khusus bertuliskan namanya. Presiden lalu menyentuh bahunya lembut, mengucapkan selamat datang. Satonaka mengangkat kepala perlahan dan menemui beliau sedang tersenyum ramah, menatapnya hangat bagai mentari di musim semi.
Segudang rencana yang tersembunyi di satu ruang kecil dalam otaknya, kini bagai menghirup udara kebebasan. Imajinasinya menjadi liar dan tak terkendali. Satonaka sedikit kewalahan memilih rencana mana yang akan dia wujudkan lebih dahulu segera setelah pin SMACitizen tersemat di dadanya: tur keliling negara, kursus Bistro, mendaftarkan diri di Idol Gakuen, potong rambut di salon Kuru-Kuru, kursus Bahasa Korea, atau... Ah! Semuanya penting! Tak sabar rasanya menunggu hari pengambilan sumpah.
Dadanya serasa ingin meledak, dipenuhi rasa gembira yang luar biasa. Satonaka merasakannya sebagai sebuah kelahiran kembali, ia dapat melihat dirinya sendiri membangun sebuah masa depan yang sempurna. Satonaka tertawa kecil. Ini pertama kali ia begitu serius tentang hidupnya. Tapi ini memang pertama kalinya ia benar-benar merasa ada, sebagai manusia.
Sekarang yang harus dilakukannya adalah menelfon kakak-kakaknya perihal berita ini, mengepak barang-barang dan pamit kepada tetangga-tetangga. Tunggu... tetangga yang ia tahu cuma seorang nenek tua yang tiap pagi memetik bunga melati di halaman rumah kos Satonaka, itupun ia tidak tahu jelas dimana nenek itu tinggal. Pernah sekali ia ngobrol dengan nenek itu di suatu hari minggu. Nenek ternyata punya cucu yang tinggal di SMAnation dan sekarang adalah seorang pengusaha sukses. Entah benar atau tidak, namun cara nenek bercerita cukup membuat Satonaka membulatkan tekad mengikuti ujian kewarganegaraan SMAnation. Ok, setidaknya ia harus menemui nenek untuk pamitan, berterimakasih atas motivasi yang diberikannya.
Menuju Jl. Lima, mata Satonaka menangkap sosok nenek tua pemetik melati. 'Panjang umur, lagi dipikirin langsung ketemu...' "Nenek, ini aku! Tunggu disitu yaaa!", Satonaka setengah berlari menghampiri nenek di seberang jalan. Hanya sepuluh langkah lagi, lalu... "Ciiittt! Brakkk!!!"
Satonaka bagai seonggok kue tart coklat, dan semut-semut mulai mengerubungi. Hanya mengerubungi. Ada yang berteriak, "Panggil polisi! Panggil Ambulans!" entah siapa. Satonaka terlalu panik untuk memperhatikan. 'Ada apa ini? Mana nenek? Aku mau bertemu nenek! Jangan berkerumun begini dong! Kalian menghalangi jalanku! Awaaas...!' Satonaka menoleh ke kiri dan kanan. Aha! Itu dia nenek, diantara kerumunan orang. "Nek! Nek!" Nenek tidak menoleh, matanya tertumbu ke satu titik. Apa yang dilihatnya? Mata Satonaka mengikuti arah pandang nenek. Jreng! Goro-chan! Benarkah ini? Goro Inagaki! Benar-benar Goro Inagaki, berjongkok di tengah jalan. Sedang apa dia disini? Apakah semua kekacauan ini gara-gara Goro-chan? Satonaka melangkah mendekati Goro-chan. Tampaknya Goro-chan sedang... memeluk gadis yang mirip Satonaka... berlumuran darah... . Satonaka merasa tenggorokannya kering, haus sekali rasanya. Seluruh tubuhnya berkeringat. Lalu disadarinya itu bukan keringat, melainkan darah. Lalu dirasakannya hangat, ternyata itu hangat dari tangan Goro-chan di tengkuknya. Entah bagaimana, tubuhnyalah yang tergeletak di aspal, sakit semua. Kata orang-orang yang berkerumun, akibat dihantam truk gandeng 18 roda.
Satu bulan kemudian.
Satonaka menangis bahagia. SMAhall lebih megah dari yang pernah dibayangkannya. Lampu dan hiasan meriah di segala penjuru , berkelap-kelip seperti ikut merasakan kegembiraan yang ada. Banyak sekali orang yang datang, mengingatkan Satonaka pada konser di Tokyo National Stadium. Atmosfernya juga persis suasana konser, ramai namun tertib. Ini pertama kalinya ia menghadiri upacara pengambilan sumpah warga negara baru SMAnation, juga pertama kalinya ia melihat member SMAP sedekat ini. Presiden Nakai tak jauh berubah seperti pertama kali ia melihatnya 16 tahun yang lalu, dengan senyumnya yang sehangat mentari musim semi. Di sebelahnya Wakil Presiden Takuya Kimura, berkharisma seperti biasa. Diantara jajaran Menteri-menteri, dia dapat melihat Menteri Perlindungan Hak Asasi Anak, Shingo Katori dan Menteri Komunikasi, Tsuyoshi Kusanagi.
Saat yang dinanti-nanti pun tiba. Presiden Nakai memanggil namanya. "Warga negara terpilih berikutnya, Satonaka." Satonaka dengan riang melangkah ke arah panggung. Kilau pin SMACitizen berukir nama Satonaka memanggilnya untuk mendekat. Tapi makin ia mendekat, makin terasa ada yang salah. Kemana perginya mentari musim semi itu? 'Bapak Presiden, saya sudah disini', bisik Satonaka.
"Hari ini kita mengenang salah satu sahabat yang sudah meninggalkan kita. Satonaka-san, mengalami kecelakaan lalu lintas sebulan yang lalu. Walau beliau tidak bisa hadir menerima pinnya hari ini, tapi namanya telah tercatat sebagai salah satu SMACitizen, dan memori tentang dirinya akan selalu kita kenang. Saya sudah menerima laporan mengenai kehidupan Satonaka-san. Beliau sepanjang hidupnya selalu memutar lagu-lagu, dorama-dorama dan rekaman-rekaman SMAPxSMAP & variety show SMAP lainnya disaat lengang ataupun sibuk. Member SMAP yang sangat disukainya adalah Goro-chan. Dari laporan yang saya terima, Satonaka-san bisa dibilang menyukai Goro-chan lebih dari kucing-kucingnya, yang merupakan teman sepermainan Satonaka-san sejak kecil. Oleh karena itu, Goro-chan hari ini juga hadir untuk memberikan penghormatannya kepada Satonaka-san", Wajah Presiden Nakai sekilas tampak menahan emosi, namun sekilas berikutnya ia tersenyum tipis.
Goro naik ke podium. Sesaat, Satonaka seperti melihat Goro-chan saat SMAPxSMAP 14 Januari 2002, ekspresi wajah yang nyaris sama. "Satonaka-san adalah fan yang sangat berarti bagi saya. Selain istri saya, Miho, dialah orang yang mengerti dan menghargai saya sebagai manusia yang punya kelebihan dan kekurangan. Sayang sekali, karena sedikit masalah internal, kecintaannya pada saya dan SMAP tidak dapat dieksplor secara optimal. Saya dapat rasakan, momen dia menjadi SMACitizen adalah sebuah awal baru baginya. Karena itu, saya berniat memberi kejutan untuk Satonaka-san di hari pengumuman kelulusannya, menjemputnya langsung menuju SMAnation. Tapi peristiwa naas itu terjadi, dan ia meninggal di pelukan saya." Goro sekejap melirik ke arah Satonaka berdiri, tak tahu apakah ia benar-benar melihat Satonaka atau hanya sekedar pandangan tak terarah. Satonaka tercekat.
"Saya yakin Satonaka-san berada diantara kita saat ini, peristiwa begini penting mana bisa beliau melewatkannya. Hari ini saya umumkan kepada semua SMACitizen, foto Satonaka-san akan dipajang sejajar dengan foto kucing-kucing saya, sebagai penghargaan atas kecintaannya kepada kucing dan juga SMAP. Semoga Satonaka-san tenang di alam sana."
Suara tepuk tangan terdengar, makin lama makin bergemuruh. Sementara Satonaka malah terkulai lemas. Ia sudah tahu ia sudah meninggal. Tapi ia memimpikan hari ini selama bertahun-tahun, walau akhirnya dengan berpura-pura masih hidup tidak membuatnya benar-benar hidup. Yah sudahlah, toh ia bisa melihat seluruh member SMAP dari jarak sedekat mungkin tanpa mereka tahu, hihihi...
Ada tangan keriput menyentuh lembut bahu Satonaka. "Oh, nenek. Bikin kaget aja, aku kira hantu, hehehe... Yuk, nek. Kita pulang. Acaranya sudah mau selesai. Namaku sudah dipanggil"
Nenek menggandeng tangan Satonaka. "Jangan sedih, jadi hantu bukannya menderita. Kamu sudah buktikan, kamu bisa lebih dekat dengan cucuku jauh lebih mudah, kan? Aku juga selama ini khawatir, apakah cucuku itu menerima pesan-pesan gaib dariku. Untung dia pintar, dan dapat melacak pesan-pesanku itu menuju kamu, Satonaka. Aku tidak mau cucuku tidak tahu kalau dia punya fan seperti kamu. Akhirnya toh hepi ending kan? Hahaha... Ngomong-ngomong, kamu tahu tidak kalau kucing-kucing cucuku itu namanya..."
Sosok Satonaka dan nenek Inagaki memudar disapu angin sore. Udara dingin tidak membuat mentari menyurutkan semangatnya untuk menembus awan tebal dengan sinarnya. Lamat-lamat kau dapat mendengar suara tertawa dua orang... eh, arwah itu di kejauhan, bagai dua anak kecil yang sedang bermain.